Perkembangan Pemikiran Keagamaan Berdasarkan Usia Agama
Setiap Agama besar di dunia mempunyai sejarahnya masing-masing. Terkadang karena jumlah umat yang begitu besar dan mempunyai kekuatan yang amat besar pula terhadap perubahan pada zamannya, agama bukan hanya bagian dari sejarah tapi ikut mewarnai sejarah itu sendiri. Dari masa sejak suatu agama lahir, secara alamiah mereka akan berkembang pula. Perkembangan ini tidak terjadi pada ranah tatanan baku aturan nilai yang dibawa oleh agama, tapi lebih pada interprestasi dan aplikasi dari manusia yang menganut nilai-nilai dasar dalam agama tersebut.
Sebagai suatu proses yang alamiah, perkembangan agama berjalan segaris dengan usianya. Selain itu, perubahan karakteristik dari sebuah agama juga sangat dipengaruhi oleh lingkungan, budaya, perkembangan zaman, serta kualitas dari para pemuka-pemuka agama yang mempunyai fungsi sebagai pengendali arah jalannya hidup beragama. Bila kita mencermati sejarah dari agama-agama besar di dunia, dapat kita tarik benang merah adanya kesamaan proses dan karateristik dalam tahap-tahap usia tertentu. Tahap-tahap itu antara lain :
1. 0 – 60 tahun : Masa Kelahiran.
Agama ada fase ini sedang dalam proses kelahirannya. Lahirnya sebuah agama diawali dari para orang-orang terpilih yang mempunyai karunia tersendiri untuk bisa merumuskan risalah tentang cara hidup batin yang tepat, agar hidup ini bisa selaras dengan seluruh isi semesta maupun penciptaNya.
2. 60 – 200 tahun : Masa Perjuangan
Setiap pendiri agama selalu mempunyai orang-orang khusus yang menerima ajaran tersebut untuk pertama kali. Orang-orang ini adalah kelompok yang sering kita kenal sebagai, para sahabat, para murid, para rasul, dll. Kelompok inilah yang memulai perjuangan agar ajaran-ajaran agama dapat disebarluaskan ke berbagai pelosok dunia. Dalam fase ini, perjuangan dimulai dengan menyusun konsep-konsep hidup batin yang mulanya disajikan secara lisan menjadi risalah-risalah literal yang terangkum dalam sebuah Kitab Suci. Penyebarab nilai dan tatanan baru ke tengah masyarakat, tentu menimbulkan banyak pro dan kontra. Penolakan tidak hanya sebatas pada tataran pertentangan ide semata, tetapi buah penolakan dari sebuah ajaran baru bisa mengakibatkan para jemaat pertama mengalami pembunuhan, teror, pengejaran, terpenjara, disiksa, bahkan terlibat dalam berbagai peperangan. Perjuangan para anggota jemaat pertama tidaklah sia-sia. Walaupun berbagai rintangan hadir, mereka berhasil menarik lebih banyak orang untuk mengikuti ajaran dari agama yang mereka wartakan. Pada fase ini jumlah pengikut agama mengalami peningkatan yang sangat drastis.
3. 200 – 500 tahun : Masa Keemasan Pertama
Kegigihan para Jemaat pertama memang luar biasa. Kedekatan mereka dengan Sang Pembawa Sabda membangkitkan semangat luar biasa yang pantang menyerah. Buah dari kerja keras ini adalah perkembangan agama yang begitu pesat. Perkembangan ini berawal ketika agama sudah mulai diterima oleh para penguasa negara, secara suka rela maupun paksaan. Pada fase ini agama yang awalnya disebarkan secara sporadis kini mendapat bantuan dari para penguasa. Dari segala sisi kehidupan mengalami perkembangan pula. Agama mulai mempengaruhi berbagai sisi dalam kehidupan manusia dengan memunculkan ciri-ciri khususnya. Seni lukis, arsitektur, sastra, musik, ilmu pengetahuan, yang semuanya sangat dipengaruhi oleh dasar-dasar religiositas muncul dan berkembang sebagai sebuah produk budaya yang premium. Produk – produk budaya pada zaman keemasan agama-agama besar di dunia tersebut, bisa kita nikmati sampai sekarang dan terus menerus menjadi sumber inspirasi bagi generasi-generasi selanjutnya.
4. 500 – 1000 tahun : Masa Keserakahan
Kedekatan para pemuka agama dengan pemegang kekuasaan mulai mengarah ke keserakahan. Keadaan ini semakin parah ketika pemuka agama merangkap juga sebagai pemegang kekuasaan. Umat beragama waktu mempunyai pikiran yang sangat sempit. Mereka menganggap pemuka agama dan penguasa adalah pengejawantahan Tuhan di bumi. Dalam pandangan umat bahwa kata mereka adalah sabda, perintah mereka selalu benar, tindakan mereka selalu mulia, dan melawan mereka adalah dosa. Keadaan ini disadari sepenuhnya oleh koalisi antara pemuka agama dan penguasa. Ketundukan rakyat adalah alat yang sangat ampuh untuk menekan dan memeras mereka demi keuntungan pribadi kaum – kaum petinggi tersebut. Ancaman kekerasan oleh penguasa dan doktrinisasi oleh pemuka agama membuat rakyat dalam posisi terjepit. Melawan penguasa dalam bentuk apapun pasti berakhir dengan hukuman mati, dengan dua tuduhan pasti pula, yaitu dianggap bid’ah atau berkhianat. Belum puas memeras kerajaannya sendiri, atas dasar agama mereka melakukan penaklukan ke kerajan-kerajan lain supaya semakin kaya. Perburuan terhadap relic-relic keagaman pada masa ini marak terjadi. Relic-relic digunakan sebagai pemerkuat legitimasi kekuasaan para elit negara.
5. 1000 – 1500 tahun : Masa Suram
Pada fase ini agama kehilangan identitas aslinya. Agama yang diharapkan sebagai penuntut manusia menuju ke arah kehidupan yang lebih beradab seakan kehilangan fungsinya. Ajaran agama ditafsirkan secara sepihak demi keuntungan kelompok elit dan demi mengalahkan kelompok yang menjadi musuhnya. Tafsir atas ajaran agama yang dikuasai oleh segelitir petinggi agama terlanjur merasuk ke benak umat kebanyakan. Ketika kekuatan penguasa mulai melemah dalam upayanya memperluas kekuasaan atas nama agama, maka tafsir yang salah ini terwariskan ke umatnya. pengsakralan yang dogmatis terhadap pemimpin agama dan kerasnya doktrinasi yang diterima umat pada masa sebelumnya, membuat umat takut untuk mengartikan ulang makna ajaran agama yang mereka jalani. Pada masa sebelumnya agama rusak ditangan para petingginya, pada masa ini agama semakin rusak karena kesalahan para pendahulunya terus dijalankan dan diajaran secara turun temurun ketengah umat.
Ada dua kelompok pemikiran dalam fase ini. Kelompok yang hidup dengan pemikiran agama yang sempit dan kelompok lain yang lebih kecil, yaitu kelompok yang mulai kritis dalam memandang ajaran agama sendiri. Segelitir umat yang mulai sadar akan kemunduran dari nilai dan fungsi agama justru dianggap sebagai kelompok yang sesat oleh kaum fundamentalis. Tujuan dari dua kelompok tersebut bisa dibilang sama. Keduanya ingin kembali ke masa keemasan agamanya. Kelompok umat yang kritis berpandangan bahwa untuk mengembalikan ajaran agama sesuai fungsinya, maka harus diadakan reinterprestasi ajaran sesuai konteks zaman dengan tanpa meninggalkan nilai-nilai ajaran yang hakiki. Sedangkan kelompok fundamentalis menganggap bahwa masa keemasan bisa kembali tercapai bila umat terhindar dari penyelewengan nilai dalam ajaran agama. Nilai ajaran agama yang mereka maksud adalah ajaran dalam pandangan dan praktek yang serba tekstual. Pemahaman agama secara tekstual merupakan proyek pembodohan dari petinggi agama. Umat dikondisikan untuk menjalankan agama secara tekstual sehingga pengetahuan mereka terbatas. Keterbatasan ini akan membuat umat selalu tergantung kepada para petinggi agama.
Salah satu keuntungan lain dari proyek pembodohan ini adalah, ketika umat selalu ditakuti dengan memberikan lebel yang begitu sakral pada teks agama, para elit agama jadi lebih mudah dalam mengkontrol atau menyetir pemikiran umat. Kondisi tersebut sangat berbahaya bagi kehidupan umat beragama. Karena nilai ajaran agama manapun yang dijalankan secara tekstual, akan berbenturan keras dengan ajaran agama lain, dengan keragaman budaya, dengan pemikiran - pemikiran maju, dengan HAM, dengan nilai dasar kemanusiaan, dengan perkembangan zaman dan dengan nilai-nilai beradaban. Benturan-benturan ini tak jarang menimbulkan konflik yang mengarah ke tindak kekerasan bahkan peperangan. Agama yang seharusnya menjadi sumber kedamaian, tampil dengan wajah seram yang seakan-akan selalu haus darah. Agama dalam fase ini hadir sebagai antitesis dari kemajuan peradaban manusia. Kalau agama terlalu lama terjabak dalam fase gelapnya, agama yang tadinya (katanya) mulia, bisa berubah menjadi racun yang mencemari peradaban manusia. Agama yang terlalu nyaman berada dalam fase gelapnya, bahkan ada gerakan yang sistematis untuk mempertahankan fase tersebut, maka ia menuju kehancurannya sendiri.
6. 1500 – 2000 tahun : Masa Reformasi.
Reformasi adalah sebuah kelahiran kedua. Agama lahir kembali dengan langkah pemurnian nilai-nilai ajaran dari pengaruh kekuasaan, politik, materi dan ego sekelompok umatnya. Dalam fase ini agama dikembalikan ke akar fungsionalnya sebagai tatanan kehidupan manusia yang lebih indah, baik dan beradab. Untuk ke-efektifannya, reformasi ini harus lahir dari para petinggi agama. Bila gerakan perubahan tersebut hanya muncul dari segelintir umat tanpa dibarengi kesadaran dari para pemuka agama, maka gerakan tersebut akan sia-sia belaka. Hanya akan dipandang sebagai sebuah gerakan pemberontakan semata. Inti dari gerakan reformasi ini adalah menempatkan kepentingan umat manusia secara umum di atas kepentingan kelompok agama itu sendiri. Hal-hal teknis dalam ajaran agama yang kiranya dapat menghalangi peran agama dalam memperindah kehidupan manusia harus diberi pemaknaan ulang.
Agama harus menyadari bahwa ia hadir di dunia dengan ragam manusia yang sangat majemuk. Pagar-pagar tinggi yang sengaja diciptakan pada masa yang lalu untuk kepentingan ekslusifitas agama dan para pemukanya harus dirubuhkan. Agama tampil dengan lebih ramah, dengan meminimalisir sekat–sekat yang dapat menghalangi penyebaran nilai-nilai mulianya ke tengah umat manusia. Satu hal yang harus ditempuh agar hal itu dapat dilakukan adalah dengan tafsir ulang ajaran agama. Ajaran agama tidak lagi terpaku pada hal-hal yang tekstual, tapi lebih pada pemaknaan secara kontekstual sesuai dengan manusia, kebudayaan dan zaman yang sedang dihadapinya.
7. Lebih dari 2000 tahun – Fase Peleburan.
Akibat dari keberhasilan pada fase sebelumnya, agama kini hadir dengan lebih universal. Ajaran-ajarannya tidak lagi berbenturan dengan kemajemukan manusia. Pada fase ini, inti ajaran mendapatkan kedudukan yang lebih tinggi dari atribut keagamaan. Nilai-nilai dasar agama tidak hanya merasuk dalam umat yang mengimaninya tetapi juga dapat diresapi oleh umat manusia secara umum. Bahkan kelompok orang yang menentang atau memusuhi suatu agama, dapat secara tidak sadar tetap menerima dan menjalankan ajaran dari agama yang ditentangnya. Ajaran agama menjadi milik umum dan bisa diamalkan tanpa harus ikut dalam keanggotaan dari suatu kelompok agama tertentu. Sebagai contoh, yoga, meditasi, kundalini, terapi holistic, dulunya adalah praktek agama, sekarang hal tersebut menjadi sesuatu yang umum sebagai bagian dari upaya kesehatan dan gaya hidup.
Menyadari dengan hati nurani yang bersih serta pemikiran logika yang waras tentang keadaan dari agama yang kita anut, membantu perkembangan pemikiran keagamaan untuk menuju ke tingkat yang lebih baik. Rasa terlena karena menganggap ajaran agama sendiri adalah mutlak yang paling benar merupakan hal yang sangat berbahaya. Hal ini membutakan kemampuan kita untuk berintrospeksi dan melaukan perbaikan-perbaikan. Reformasi terhadap tafsir yang menuju ke arah yang lebih kontekstual tak akan melemahkan nilai-nilai dasar agama. Gerakan ini justru akan membawa agama sebagai sebuah tatanan yang lebih manusiawi dan beradab. Agama sebagai sumber konflik adalah buah dari kegagalan menempatkan ajaran agama secara kontekstual. Jika agama yang anda anut lebih banyak menimbulkan peperangan, kematian, bencana, perselisihan, tindak kekerasan, kemunduran budaya dan bukannya menciptakan kasih, ketenangan serta kedamaian, anda harus segera bertindak untuk lepas dari fase kegelapan tersebut. Sebelum agama anda dinilai sebagai racun dunia dan akhirnya musnah ditelan masa.
Posted by Saya at 10:25:36 | Permanent Link | Comments (0) |
Tuesday, June 10, 2008
Menyembah Teks
Kitab Suci adalah sarana pewarisan nilai-nilai budaya dari sebuah ajaran agama yang diwariskan secara turun-menurun dan sistematis. Lewat teks-teks yang tercantum dalam kitab suci, manusia mendapatkan cara yang termudah untuk mempelajari agama. Diakui maupun tidak, teks dalam kitab suci yang konon ditulis oleh para nabi, mesias, avatar dan utusan lainnya, tidak lepas dari konteks zaman, politik, adat dan budaya pada saat penulisan teks suci tersebut dilakukan. Walaupun kitab suci dipercaya sebagai curahan dari Sang Tuhan, dalam penulisannya tak lepas dari peran serta manusia. Sesuai dengan teori komunikasi bahwa setiap kali terjadi proses pengoperan pesan yang melalui berbagai media, selalu diikuti dengan terjadinya reduksi pada pesan tersebut. Manusia sekalipun diberi gelar nabi, tetaplah manusia yang masih bisa salah. Menganggap nabi sempurna tampa ada sedikitpun cacat dan kesalahan adalah bentuk mengingkaran terhadap sifat Ke-Maha-an Tuhan. Jadi menganggap teks dalam kitab suci adalah sesuci Tuhan sendiri adalah sebuah kebodohan.
Keadaan hidup, suhu politik, budaya, sifat dan emosi si penulis akan memberi pengaruh pada cara atau karakter penyampian pesan dari Tuhan dalam teks kitab suci. Kumpulan Ajaran Tao ditulis oleh guru-guru yang tinggal jauh dari keramaian, dipegunungan dan hutan-hutan, maka pesan dari Sang Tuhan datang dalam kata-kata yang penuh dengan kelembutan, keselarasan dan kesemibangan hidup. Ajaran budha yang muncul melalui olah batin dan mati raga memberikan kakater ajaran yang mempunyai sifat sabar, rendah hati dan penuh belas kasih. Ajaran kristen yang muncul dari sebuah masyrakat yang sedang berada dalam kungkungan penguasa politi dan agama, membawa karakter ajaran yang kritis dan revolusioner. Islam yang muncul ditengah alam gurun yang ganas, diantara suku-suku nomaden dan ditulis oleh para pemegang kekuasaan, melahirkan ajaran yang terdiri dari hukum-hukum yang detail, bersifat keras dan tegas. Tuhan yang Satu menyampaikan sabdanya kepada manusia-manusia diperbagai belahan dunia dengan sifat dan keadaan hidupnya masing-masing. Tuhan yang Satu menyampaikan satu hal yang sama yaitu agar manusia mencintai Penciptanya, alam semesta, dan sesamanya manusia. Pesan global tersebut kemudian diterjemahkan dalam versinya masing-masing melalui agama-agama dan kitab sucinya.
Pesan Global Tuhan tentang cinta melalui agama-agama, seharusnya bisa mewarnai dunia dengan kedamaian dan cinta. Tetapi pada kenyataannya, justru sering kali agama dijadikan landasan untuk menciptakan konflik. Agama-agama mencari pembenaran berbagai macam tindak kekerasan dengan mengatasnamakan kepatuhan terhadap perintah tuhan yang termuat dalam teks-teks kitab sucinya. Semua konflik yang timbul dari agama adalah bersumber pada pemahaman teks kitab suci yang tekstual. Manusia bodoh dipermudah dalam mempelajari sesuatu dengan disuruh menghapal teks, tanpa tahu arti yang terkandung didalamnya. Pemahaman agama yang menitik beratkan pada kepatuhan buta pada teks kitab suci, akan membawa ke dalam kehidupan beragama yang fanatis dan bodoh. Hal ini justru akan meminggirkan Sang Tuhan sebagai Sang Sumber Ajaran. Tuhan tampil dikehidupan manusia sebagai sosok yang bodoh dan tidak layak untuk disembah.
Bahaya dari pemahaman agama secara tekstual sangatlah nyata. Hal ini terus terjadi dan menjadi bagian dari sejarah serta masa depan manusia. Berbagai kasus kekerasan dengan dalih agama terus ada sepanjang zaman, dari era perang salib, pembunuhan para ilmuwan yang dirasa menyimpang dengan teks kitab suci, perang Inggris – Spanyol, perburuhan penyihir wanita di Salem, perbudakan, perang utara-selatan di Amerika, konflik di pakistan, konflik di afganistan, konflik Israel – Palestina, konflik Inggris – Irlandia, konflik Poso, pemberontakan Moro, bom Bali, bom malam Natal, munculnya Jemaah Islmiyah, pengeboman menara kembar WTC, pembakaran rumah ibadah, penyerangan jemaah amadiyah, kekerasan brutal FPI, dll. Dengan serentetan konflik berdarah tersebut, Tuhan seakan-akan begitu bodoh telah salah menciptakan agama. Atau malah Tuhan terkesan begitu kejam, sehingga Ia begitu senang, menikmati dan merestui segala macam konflik yang berasal dari ajaranNya tersebut? Untuk itu, mari kita telaah kebohohan Tuhan jika manusia hanya menjalankan ajaranNya secara tekstual semata ;
Matius 5:39, Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.
Secara Tekstual : Tuhan begitu bodoh senang melihat umatnya menderita! Sudah sakit ditampar pipi kanannya, disuruh juga memberikan pipi kirinya juga untuk ditampar!
Secara Kontekstual : Tuhan mengajarkan untuk mengalah. Mengalah kadang terasa lebih menyakitkan dari pada melawan tetapi harus kalah. Tuhan juga mengajarkan bahwa kekerasan dibalas dengan kekerasan tidak menyelesaikan masalah.
Markus 9:47, Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan bermata satu dari pada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka,
Secara Tekstual : Tuhan begitu kejam, jika mata kita mengajak kita kearah perbuatan dosa, kita harus mencungkil mata kita supaya terhindar dari neraka. (Bila ini dipraktekkan secara harafiah oleh pengikut Kristus, bisa dipastikan sepertiga dari penduduk bumi hanya mempunyai satu mata!)
Secara Kontekstual : Tuhan mengajarkan manusia untuk berani menghindari dan menghilangkan hal-hal yang bisa mengarahkan manusia jatuh dalam perbuatan dosa, sekalipun hal tersebut dirasa sangat menyenangkan atau sangat penting untuk kehidupan manusia. Mencungkil mata sendiri juga mempunyai arti bahwa tindakan menjauhi dosa harus berawal dari diri sendiri, yaitu melalui mengorbankan ego dan berintropeksi.
Quran 9:123, Hai orang-orang yang beriman, bunuhlah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa.
Secara Tekstual : Tuhan mengajarkan Umat Islam untuk membunuhi orang-orang kafir. Jika kafir juga diartikan secata tekstual sebagai golongan agama selain Islam, maka Tuhan memerintahkan untuk memusnahkan semua manusia selain yang beragama Islam.
Secara Kontekstual : Tuhan mengajarkan untuk membunuh sifat-sifat kafir dalam hati setiap manusia. Sifat-sifat kekafiran adalah sikap yang bertolak belakangan sikap ikhlas dan penyerahan diri dalam kekuasaan Allah. Yang diperangi dan dimatikan adalah sikap mentalnya bukan manusianya.
Tekstual dan Kontekstual merupakan dua cara memahami perintah Tuhan yang mempunyai efek yang luar biasa berbeda. Mengajarkan umat untuk bisa memahami sebuah ayat secara kontekstual dengan tanpa keluar dari koridor-koridor nilai yang terkandung didalamnya memang tidak mudah dan memakan waktu yang lama. Memang sangat lebih mudah untuk mengajarkan umat supaya hapal teksnya saja. Pemahaman hakiki dari sebuah ayat adalah hasil dari perenungan pribadi dengan bantuan penerangan batin dari SumberNya. Peran pemuka agama hanya sebatas mengarahkan dan memberikan panduan supaya pemahaman tersebut tidak lepas dari hakikatnya. Tetapi banyak dari pemuka agama yang mengambil peran sebaliknya. Mereka mendominasi dan memaksakan arti dari sebuah ayat kepada umatnya. Umat hanya boleh patuh secara total, tanpa boleh berpikir secara kritis sedikitpun.
Berdalih untuk menjaga kesucian sabda Tuhan, pemuka agama melarang keras timbulnya interprestasi yang up to date terhadap sebuah ayat dalam kitab suci. Mereka-mereka yang berani untuk menggali lebih dalam dari apa yang telah tertulis dalam kitab suci dengan pemahaman-pemahaman kekinian, justru dianggap sesat dan menyesatkan. Memang efek yang timbul dari sebuah pemikiran kristis terhadap teks agama adalah timbulnya pertanyaan-pertanyaan yang ontologis terhadap ajaran-ajaran tersebut. Jika si pemikir merasa tidak mendapatkan jawaban, ditakutkan kalau nantinya malah memilih jalan yang menyimpang dari nilai-nilai agama. Tampaknya para pemuka agama merasa ogah kerepotan melayani pertanyaan-pertanyan dari buah pemikiran umatnya. Atau mereka terlalu bodoh untuk bisa membimbing umat menuju kearah pencerahan yang sejati?!
Gerakan untuk mempertahankan ajaran agama hanya sebatas teks, adalah bukan merupakan ketidaksengajaan atau akibat dari kebodohan semata. Hal ini dilakukan secara sitematis dan berkesinambungan oleh orang-orang tertentu. Umat dikondisikan untuk tetap bodoh agar mudah disetir dan untuk menjaga supaya para pemuka agama kelihatan lebih pandai dari umat umumnya. Gerakan semacam ini harus segera dihentikan. Karena selain rawan tibul konflik antar agama, gerakan ini mendadani muka Tuhan dengan topeng kebodohan dan kekejaman. Terjebak dalam teks keagamaan justru menghalangi kita untuk merasakan keagungan dari kuasa Tuhan. Silahkan memilih jalan! Anda mau mengabdi pada teks, atau mengabdi kepada Tuhan!!??
Posted by Saya at 10:29:35 | Permanent Link | Comments (4) |
Thursday, May 22, 2008
Filsafat dan Agama
Agama, pada awal tahap perkembangannya kerap terjebak pada pola-pola penghayatan yang sempit . Ayat-ayat dalam kitab suci diterjemahkan secara kaku dan sangat tekstual. Tidak semua orang boleh memegang dan membaca Kitab Suci. Interprestasi sabda Tuhan, dari teks suci ke penjabaran dalam kehidupan sehari-hari didominasi oleh kepentingan petinggi agama, dan semakin kacau ketika kepentingan penguasa negara ikut turut campur. Akibatnya fatal! Ketaatan pemeluk agama memang kuat, tapi fanatisme sempit yang cenderung anarkis juga meningkat, dan tiba-tiba saja muka tuhan terlihat begitu bengis dan bodoh! Hampir semua agama mempunyai masa kegelapannya masing-masing. Kebodohan manusia dalam mengartikan sebuah pesan yang datang dari Tuhan sekalipun, bisa berbahaya hasilnya.
Kebodohan dan kebengisan agama bisa dikikis sedikit demi sedikit ketika agama mulai berani membuka diri terhadap kajian keilmuan lain yang ada di dunia ini. Salah satu jembatan yang menghubungkan pesan dari Tuhan dalam agama dengan penerapannya di kehidupan sehari-hari adalah filsafat. Filsafat sering diartikan sebagai sebuah hal yang rumit, penuh kata-kata yang sulit dimengerti, dan susah untuk dipelajari. Tapi sebenarnya, ketika orang sudah memahami pola keilmuan dalam filsafat, filsafat justru memberikan sebuah cara untuk menyederhanakan tahap-tahap pemikiran manusia agar lebih mudah dalam menelaah inti sari dari sebuah permasalahan.
Filsafat berasal dari bahasa yunani Philosophia. Dalam bahasa ini, kata ini merupakan kata majemuk dan berasal dari kata-kata (philia = persahabatan, cinta dsb.) dan (sophia = "kebijaksanaan"). Sehingga arti harafiahnya adalah seorang “pencinta kebijaksanaan” atau “ilmu”. Filsafat mempelajari seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis. Hal ini didalami tidak dengan melakukan eksperimen-eksperimen dan percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan problem secara persis, mencari solusi untuk itu, memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu, serta akhir dari proses-proses itu dimasukkan ke dalam sebuah proses dialektik. Dialektik ini secara singkat bisa dikatakan merupakan sebuah bentuk dialog. Maka, untuk studi falsafi mutlak diperlukan logika berpikir dan logika bahasa. Proses berpikir filsafat dilakukan dalam 3 bagian yang meliputi ; Ontologi, Epistimologi dan Aksiologi.
Ontologi membahas tentang masalah “keberadaan” sesuatu yang dapat dilihat dan dibedakan secara empiris. Hakekat kenyataan atau realitas memang bisa didekati ontologi dengan dua macam sudut pandang:
1. kuantitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan itu tunggal atau jamak?
2. Kualitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan (realitas) tersebut memiliki kualitas tertentu, seperti misalnya daun yang memiliki warna kehijauan, bunga mawar yang berbau harum.
Secara sederhana ontologi bisa dirumuskan sebagai ilmu yang mempelajari realitas atau kenyataan konkret secara kritis.
Epistemologi adalah tema yang mengkaji tentang pengetahuan (episteme secara harafiah berarti “pengetahuan”). Epistemologi membahas berbagai hal tentang pengetahuan seperti batas, sumber, serta kebenaran suatu pengetahuan. Epistomologi atau Teori Pengetahuan berhubungan dengan hakikat dari ilmu pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dasar-dasarnya serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki oleh setiap manusia. Pengetahuan tersebut diperoleh manusia melalui akal dan panca indera dengan berbagai metode, diantaranya; metode induktif, metode deduktif, metode positivisme, metode kontemplatis dan metode dialektis.
Sedangkan aksiologi adalah tema yang membahas tentang masalah nilai atau norma sosial yang berlaku pada kehidupan manusia. Bisa dikatakan juga bahwa aksiologis merupakan penerapan secara nyata dari proses dialektika ilmu pengetahuan.
Tiga pemikiran filsafat diatas dapat diterapkan untuk menelaah hakikat terdalam dari ajaran - ajaran agama yang ada di muka bumi. Misalnya untuk melihat hubungan antara sifat Tuhan dengan kebenaran ajaran yang diwartakanNya. Secara ontologis, Tuhan merupakan ada yang menguasai segala ada lain di alam semesta ini. Secara epistimologis, sebagai ada tertinggi, maka Tuhan haruslah mempunyai sifat “Maha” sebagai kebalikan dari ada lain di alam semesta yang mempunyai sifat terbatas. Sifat “Maha” tersebut adalah syarat mutlak agar sebuah ada layak disebut sebagai Tuhan. Secara aksiologis, akan dilihat apakah ajaran yang bersumber dari Tuhan yang Maha Tak Terbatas tersebut, mempunyai sifat dan karakteristik sama dengan sumbernya, ketika dipraktekan di tengah kehidupan sehari – hari ( baca selengkapnya di posting terdahulu dalam blog ini ). Pemikiran filosofis mempunyai dasar yang netral dalam memandang Tuhan dan agama, karena sumber pemikiran filosofis yang sejati bersumber pada akal sehat dan hati nurani yang bersih.
Ilmu-ilmu eksakta sering gagal dalam memahami Tuhan dan Agama. Filsafat dapat menjembatani antara misteri agama dengan kajian keilmuan yang kongkret dan kritis. Dengan demikian, agama muncul dengan muka baru yang lebih ramah dan manusiawi. Tapi banyak pula lembaga-lembaga agama yang phobia dengan Filsafat. Bahkan tidak sedikit yang menganggap bahwa semua pengetahuan dan ilmu selain agama tidak ada gunanya serta sesat belaka! Kebodohan orang-orang tersebut memandang sempit ilmu filsafat sebagai perusak kemurnian agama. Ada juga muncul kekhawatiran yang tidak beralasan bahwa dengan mempelajari filsafat, akan menarik seseorang ke arah atheisme. Pemikiran ini sangat bertolak belakang dengan fakta keilmuan yang ada. Filsafat justru mendekatkan manusia pada pemikiran inti dari agama yang semurni-murninya. Filsafat dapat menyingkap selubung misteri dari ajaran agama, agar makin mudah dipahami manusia. Filsafat juga memberikan alasan yang masuk akal disamping alasan keimanan, untuk mempercayai serta menjalankan sebuah agama. Kadang muncul sebuah pertanyaan yang menggelitik hati. Kebohoan tersebut sebuah budaya yang muncul dengan sendirinya karena sifat yang introfet atau sengaja “dibodohkan” secara institusi untuk menghindari melihat sisi yang sebenarnya dari ajaran agama yang dianutnya???
Tidak berpikir secara filosofis dalam menjalankan agama berarti memisahkan akal sehat dan hati nurani dari agama. Agama akan jalan ditempat, nyaman dengan status quo dan bangga berada di era dark ages. Agama akan berkutat pada kebenaran semu yang terus dipaksakan untuk dipercayai tanpa dasar yang jelas. Pemaksaan kebenaran semu secara ini diabil dengan dsar-dasar yang subyektif, yaitu dengan teks-teks dari kitab sucinya sendiri. bagaimana bisa teks suci sebuah agama dapat digunakan sebagai epistimologi pemikiran, kalau secara ontologis belum dapat dijelaskan hakekat kebenarannya secara kongkret?
Usaha pencarian kebenaran itu akan semakin bodoh dan terlihat putus asa dari hari ke hari. Pada tahap berikutnya, agama yang memaksakan kebenarnya secara subyektif tersebut akan menyerang teks-teks ajaran agama lain dengan tujuan memperlihatkan bahwa agamanya benar dan agama lain salah. Tapi sekali lagi dengan katalisator yang tidak masuk akal. Kebenaran teks agama lain dinilai dengan tolok ukur teks agamanya sendiri yang nyata-nyata memang saling bertentangan. Hal tersebut cuma akan menunjukan kenyataan adanya perbedaan dari dua ajaran agama, bukan menujukan pada kenyataan tentang ajaran mana yang benar dan mana yang salah. Pemaksaan kebenaran juga sering dilakukan dengan mencomot ayat dalam ajaran agama lain secara tekstual, dan dicarikan pemaknaan yang dipaksakan untuk mengakui kebenaran dari sebuah agama tertentu. Sebuah paradoks yang lucu. Untuk menyatakan agamanya benar, kadang mereka mencari kesalahan-kesalahan dari ajaran lain, tapi kadang pula mereka mencari dalam ayat-ayat agama orang lain tersebut yang sekiranya kalau diartikan secara ngawur, bisa dijadikan bukti pembenar dari ajaran agamanya sendiri.
Belum puas dengan cara-cara diatas, mereka memaksakan kebenaran agama dengan menghubung-hubungkan feneomena ilmiah dengan teks agama. Misalnya; telaah ilmiah tentang matahari sebagai sumber cahaya dihubungkan secara aneh dengan sebuah ayat yang memuat kata sinar matahari didalamnya, lalu membuat kesimpulan bahwa ajaran agamanya hebat dan benar karena telah mengetahui hal tersebut jauh sebelum para ilmuan-ilmuan sekuler mengetahuinya. Sebuah kesimpulan yang anti logika. Primus-primus yang berdiri sendiri –sendiri dan tidak saling berhubungan, dipaksakan untuk mengarah pada satu konklusi tertentu. Banyak terjadi bahwa fenomena-fenomena alam yang dipakai sebagai alat pembenaran tersebut bukan berasal dari telaah ilmiah yang nyata tetapi dari berita-berita bohong atau berita yang sengaja direkayasa untuk membohongi publik ( baca posting tentang hoax ).
Bila cara yang dipakai untuk mencari kebenaran dari Tuhan dan agama adalah cara-cara konyol seperti yang ada di atas, maka akan menghasilkan umat beragama yang berwawasan sempit, bodoh, dan fanatik. Kegagalan mereka sendiri dalam mencari kebenaran yang sejati dari agamanya, akan menimbulkan sikap yang selalu memusuhi terhadap ajaran agama lain dan selalu berusaha mencari kejelekan-kejelekan subyektif dari ajaran agama lain. Bila hal tersebut terus dipupuk secara melembaga, saya ucapkan selamat datang diera mundur yang anti peradaban. Hanya orang yang bosan dengan peradaban yang melembagakan dan melestarikan kebodohan.
Agama dan filsafat bisa bersanding dengan mesra dan saling melengkapi satu dengan yang lain. Dua-duanya bisa semakin kokoh dan saling mencerahkan. Sebagai perumpamaan bahwa Agama itu adalah peta dan filsafat itu adalah obor. Manusia yang berjalan di lorong-lorong gelap kehidupan ini, bila hanya berbekal peta mereka masih bisa berjalan tanpa tersesat, tapi mungkin akan banyak tersendung atau menabrak sesuatu di jalan. Bila hanya mengandalkan peta tanpa penerangan obor, jalan terlihat terang sehingga dapat terhindar dari tersandung atau menabrak, tapi ada kemungkinan tersesat. Bila digunakan dua-duanya, maka manusia akan bisa berjalan lancar dan tanpa tersesat melintasi gelapnya jalan kehidupannya.
Solo, 22 Mei 2008
Posted by Saya at 10:57:46 | Permanent Link | Comments (1) |
Saturday, May 10, 2008
HOAX RELIGI : Kebohongan Demi Pewartaan Akan Kebenaran.
Pada suatu hari, seorang karyawan di kantorku (sekarang eks kantor tepatnya) membawa sebuah kepingan VCD. Dia mengatakan bahwa VCD itu berisi rekaman suara-suara orang yang sedang mengalami sikasaan kubur. Suara itu direkam ketika seorang ahli geologi dari barat hendak menyelidiki pergerakan kulit bumi dengan memasang beberapa microfone yang super sensitif di kedalaman 14 km. Hasilnya dari microfone itu terdengar suara gemuruh dan lengkingan, yang bagaikan suara jeritan ribuan manusia yang sedang mengalami siksaan. Temen-temen sekantor yang mayoritas muslim semua tertegun melihat VCD itu. Suasananya memang menggiring pikiran seseorang yang sebelum menonton sudah separuh mempercayai isinya, untuk benar-benar menyimaknya.
Pertama muncul suara orang membaca ayat-ayat Al Quran dengan visualisasi tulisan dari ayat-ayat tersebut yang intinya adalah ancaman dari Allah akan pedihnya siksa kubur bagi orang-orang yang tidak percaya dan berbakti kepadaNya. Adegan berikutnya adalah prosesi penguburan jenazah dari proses di mandikan, dikafani, didoakan, diusung menuju kuburan lalu ditimbun dengan tanah. Masih dengan back sound yang sama yaitu pelantunan ayat-ayat Al Quran. Baru setelah itu diperdengarkan suara hasil rekaman dari microfone yang dipasang diperut bumi tersebut. Semua orang-orang mendengarkan dengan seksama, baik yang percaya maupun yang tidak percaya. Terdengar suara gemuruh disertai suara lengkingan dengan frekuensi yang amat tinggi dan terus bersaut-sautan. Lalu si pembawa kaset menyuruh para hadirin untuk menyimak lebih cermat suara itu. Katanya, sebentar lagi akan ada suara yang meneriakan “Allahu Akbar”. Semua mendekat, dan setelah itu muncul noise nggak beraturan dari rekaman tersebut dan sang moderator dengan yakinnya bilang, “Nah, itu loh, dengar nggak ada yang berteriak Allahu Akbar!?” Para hadirin yang ada disitu semua terbius dan mengangguk bersamaan. Sebagian mereka mengucap pelan “Subannallah…!”
Setelah VCD itu selesai diputar, orang-orang tadi mulai mengeluarkan berbagai macam komentar. Betapa mereka tabjub dan takut pada Tuhan mereka. Malah ada yang mengajakku mulai belajar sholat agar terhindar dari siksaan kubur yang begitu mengerikan tadi. Itu petikan satu dari berbagai peristiwa fenomenal disekitar agama yang pernah saya alami.
Setelah beberapa bulan, saya iseng-iseng mencari rekaman Siksa Kubur tadi di www.youtube.com. Rekaman itu ternyata ada diYoutube. Selain menemukan video tadi, saya juga menemukan video-video lain yang setema, yaitu kejadian disekitar ajaran agama yang dikemas dengan ayat-ayat penuh berisi ancaman dan iming-iming surgawi. Masih diliputi rasa penasaran, mencari referensi lain lewat Google. Ternyata banyak sekali directory di internet yang membahas seputar keajaiban tuhan tersebut. Disitu pula saya mendapati beberapa situs yang berisi bantahan terhadap hoax yang beredar luas di internet. Hoax adalah berita bohongan yang sengaja disebarkan untuk maksud dan tujuan tertentu. Situs anti hoax itu menyelidiki dan memberikan bukti secara ilmiah tentang kebohongan berita-berita hoax di internet. Dalam situs tersebut menjelaskan bahwa suara yang dikira atau “dipaksakan untuk dikira” sebagai suara siksa kubur itu merupakan fenomena yang sudah terjadi puluhan tahun lalu dan sudah pernah dimuat oleh sebuah koran kacangan di Amerika. Secara ilmiah, sebuah microfone yang sangat sensitif akan mendapatkan bunyi yang luar bisa gaduhnya ditempat tersunyipun. Kalau kita nggak melupakan pelajaran IPA waktu SD, telingga manusia hanya bisa menangkap suara dalam rentangan gelombang tertentu saja. Banyak suara yang tidak bisa ditangkap oleh telinga manusia, tapi bisa ditangkap melalui alat pengindraan lain. Didalam bumi bisa dikatakan sunyi tanpa sura menurut pendengaran manusia, tapi dengan sebuah microfone yang mempunyai kemampuan menangkap gelombang diluar batas kemampuan telinga manusia, akan tertangkap banyak sekali suara. Karena memang tujuan penelitiannya adalah menyelidiki pergerakan kulit bumi maka bunyi tadi bisa berasal dari pergesekan dua lempengan bumi yang sedang bergerak. Atau bisa juga bunyi dari ribuan serangga yang hidup di dalam tanah yang secara tidak sengaja ikut terekam waktu diadakan observasi. Penelitian semacam ini ternyata juga telah banyak dilakukan oleh para ahli geologis. Dan para ahli geologis tersebut rata-rata hanya memerlukan kedalaman antara 300 – 500 m dibawah tanah untuk bisa melakukan penelitian, tidak sampai 14 km seperti yang disebutkan dalam VCD hoax tersebut. Satu hal lagi yang patut dicatat bahwa pengandaian neraka ada diperut bumi, sedangkan surga ada diatas langit adalah pengandaian sederhana seorang anak kecil untuk memahami keberadaan surga dan neraka.
Mencermati sebuah berita fenomenal adalah hoax atau bukan adalah hal yang mudah. Hoax beritanya selalu hiperbolis, tidak menyertakan sumber-sumber yang resmi seperti liputan dari media yang resmi, jurnal ilmiah dari lembaga yang resmi, situs intenet yang resmi,dll. Hoax biasanya muncul melalui email, forum, blog, millis yang berbasis komunitas kepercayaan tertentu. Pada akhir pesan, pengirim hoax biasanya meminta si penerima untuk ikut menyebarkan berita tersebut ke beberapa orang lainnya dengan iming-iming datangnya keberuntungan. Berita yang nyata selalu punya sumber yang resmi dan bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya misalnya : Natonal Geographic, Discovery Chanel, BBC dll. Berita yang nyata juga tidak pernah ada himbauan untuk menyebarkannya, tapi akan tersebar dengan sendirinya.
Hoax pada mulanya berisi hal-hal seputar fenomena aneh di alam, seperti video dan foto – foto pendaratan UFO, video otopsi jasad alien oleh Nasa, video monster di danau loudness, foto satelit reruntuhan atlantis, dll. Belakang ini banyak sekali beredar di internet hoax yang berhubungan dengan religi. Ada hoax yang merupakan buatan lokal, ada pula yang dibuat oleh orang luar. Oleh bantuan para pemerhati hoax dan para anti hoax, beberapa hoax itu sudah dianalisa secara ilmiah dan dicarikan referensi resminya untuk cek dan ricek. Berita-berita hoax itu antara lain :
Hoax
Fakta
Video seorang anak yang menjadi Ikan Pari karena menendang ibunya ketika Sholat
Video ikan pari yang mempunyai kelainan secara fisik.
Kubah mesjid bisa terbang sendiri ke atas menara ketika akan dipasang, hanya dengan bantuan dzikir.
Kubah masjid ditarik dengan tali warna putih. Tali terlihat ketika contras video dipertajam.
Penemuan Ayat Al Quran di DNA manusia (sudah pernah dimuat di SOLOPOS)
Jurnal penelitian tersebut tidak pernah ada di website resmi universitas tempat penelitian DNA itu (katanya) berlangsung. Tidak pernah dipublikasikan juga secara resmi, hanya beredar di milis dan forum islami.
Video seorang wanita arab yang badannya berubah menjadi anjing karena durhaka terhadap ibu.
Badan dan kepala jelas bukan sebuah kesatuan. Seperti visual efek murahan dalam sinetron - sinetron action-legenda di INDOSIAR
Sajadah yang mengaji
Rekaman handycam kasar, sajadah yang dibuat/ditata setengah berdiri, di shoot memutar dengan back sound suara lantunan ayat Al Quran.
Mayat penuh darah di Mesir, setelah dikubur 3 jam lalu diangkat kembali : bukti siksa kubur lagi!
Secara gamblang kondisi mayat sudah mengkeriput, kulit sudah menempel ke tulang-tulang dan pigmen rambut sudah mulai pudar. Kondisi tersebut terjadi kalau jasad sudah dikuburkan lebih dari 2 minggu (nggak mungkinh kalau 3 jam). Darah yang disebutkan juga sudah mengering. Bisa jadi itu adalah mayat korban penganiayaan atau kecelakaan yang akan diotopsi oleh polisi setempat.
Penemuan fosil manusia raksasa setinggi 4 meter di Arab Saudi : Bukti Kebenaran Isi Alquran
Ternyata image tersebut adalah hasil dari sebuah kontes digital imaging yang berbasis Photoshop. Foto asli masih ada dan sebenarnya adalah foto penemuan fosil gajah purba di Nevada Amerika.
Hantu kafir : Kalau kamu kafir, mati jadi hantu gentanyangan!
Video yang sangat bodoh! Cuma gambar kucing yang sedang tidur, di-shoot ditempat gelap dengan keadaan yang out focus!
Sejarah April Mop : Perayaan untuk memperingati Pembantaian Umat Muslim di Cordoba – Spanyol.
Sejarah itu tidak pernah ada.
AXIS : Anti Kristus
Kartu AXIS : Kartu Setan
Paranoid! Selama ini belum ada laporan tentang kejadian buruk yang menimpa pengguna kartu AXIS.
Bisa juga bentuk dari Black Campaign dari kompetitor.
Sebarkan doa ini ke 10 no telp temanmu! Kamu akan dapat keberuntungan seketika!!!
Tuhan Bukan Bos MLM!
Hoax religi tidak hanya membahas hal-hal fenomenal yang ada di dalam agamanya si pembuat sendiri. banyak sekali hoax religi yang ditujukan terhadap ajaran agama lain, dengan satu tujuan pasti : Pendiskreditan!. Cirinya : main potong ayat kitab suci agama lain dengan asal-asalan, mengartikan ayat-ayat kitab suci agama lain secara tekstual dan parsial saja. Tidak menyertakan fakta dan bukti yang jelas, menganalisa ajaran agama lain dengan tolok ukur ajaran agamanya sendiri yang sudah jelas-jelas bertolak belakang. Hoax-hoax tersebut antara lain :
Islam mengatakan bahwa orang Kristen mempunyai 3 Tuhan
Kristen memang memang mengenal istilah Tritunggal, tapi tidak pernah mengartikan kalau Tuhannya adalah 3 biji, baik dalam ajaran keseharian maupun Injil. Ajaran Kristen dimanapun : 1 Tuhan!
Islam mengatakan bahwa Tuhan Kristen bisa mempunyai anak
Yesus anak Tuhan, adalah sebuah gelar. Seperti “Rendra si Burung Merak”, bukan berarti bahwa rendra adalah seekor burung merak!
Umat kristen sering dikatakan sebagai anak Tuhan dan Tuhan sering disebut Bapa adalah untuk mengambarkan keinginan hati umat yang ingin begitu dekat dengan Tuhannya
Islam mengatakan bahwa Maria adalah bagian dari Tritunggal
Maria bagian dari Tritunggal tidak pernah ditulis atau diajarkan sama sekali dalam Kristen.
Kristen diubah oleh Paulus
Perubahannya yang signifikan tidak dapat disebutkan oleh si pembuat hoax.
Tidak ada bukti sedikitpun!
Injil yang ada sekarang adalah injil Palsu!
Kalau Palsu, kitab yang aslinya mana? Tidak ada bukti sedikitpun!
Muhammad diramalkan dalam Injil
Tidak ada satu bagianpun dari Injil yang meramalkan kedatangan nabi baru.
Katanya Injil itu palsu, kok dijadikan referensi juga?????
Paus dan Para Uskup Roma suka sodomi anak – anak kecil
Kalau memang ada bukti, laporkan saja ke Polisi. Kalau memang terbukti jahat, maka umat katolik nggak akan membelanya juga!
Islam mengatakan bahwa Kristen menyembah Salib, maka kristen adalah penyembah berhala.
Tidak ada satu bagianpun dari Injil yang mengajarkan untuk menyembah salib. Kalau orang kristen berdoa dihadapan salib, hanya merupakan sebagai alat bantu untuk memfokuskan pikiran dan hati dalam doanya, selayaknya saudaranya kaum Muslim yang sholat menghadap ke bangunan kaba’ah.
Entah dari siapa pertama kali berita-berita aneh yang tertulis di atas itu muncul. Yang jelas sang pembuat hoax itu adalah seseorang yang sangat bodoh dalam memahami Tuhan dan Agama.
Hoax adalah berita bohong, sedangkan agama adalah berita kebenaran yang subernya langsung dari Tuhan Yang Maha Benar. Dua sisi yang saling bertentangan, kalau digabungkan justru mencoreng muka suciNya Tuhan! Kenyataan yang paling menyedihkan bahwa sebagian besar berita bohong tadi sudah diketahui kebohongannya sejak awal oleh si pembuatnya, bukan karena ketidaktahuan atau ketidaksengajaan si penyebarnya. Misalnya : orang yang mengambil gambar “kubah mesjid terbang” pasti bisa melihat bahwa kubah itu ditarik oleh tali, tapi mengapa ia dengan sengaja mengarang cerita bahwa kubah tersebut terbang sendiri setelah dilantunkan dzikir? Bahkan ada juga yang sejak awal diniati untuk membuat sebuah berita bohong seperti pada hoax sajaddah mengaji, hantu kafir, dan wanita bertubuh anjing. Ketiga hoax tersebut sengaja disetting oleh si pembuatnya dengan tujuan membohongi publik.
Mengapa orang bisa menyebarkan kebohongan publik atas nama agama? Hal ini terjadi karena konsep atas perkembangan agama yang ada di Indonesia ini, kebanyakan lebih fokus pada penigkatan kuantitas umat dari pada peningkatan kualitas umat. Lembaga agama banyak berlomba-lomba untuk mendapatkan umat sebanyak-banyaknya, maka dicarilah cara paling efektive untuk membuat seseorang tertarik mengikuti agama tertentu. Cara paling efective adalah dengan menyebarkan hal-hal yang fantastic seputar ajaran agama. Agama sendiri di beritakan telah begitu banyak menciptakan keajaiban dan mujizat sedangkan agama orang lain diberitakan sebagai agama yang salah, palsu, sesat, celaka dan kafir. Selain itu, sejak dulu, pengajaran agama secara sistematis sudah salah dengan menyederhanakan ajaran agama sebagai cara menghindari nereka dan bagaimana bisa bercinta dengan 77 bidadari di surga. Cara ini sangat manjur untuk otak orang Indonesia yang mayoritasnya masih bodoh. Sudah menjadi rumusan bahwa otak yang bodoh akan lebih mudah bereaksi dengan hal – hal yang bodoh pula. Itulah mengapa hoax laris manis di Indonesia .
Kalau para pencinta dan penyebar hoax dibenturkan pada pernyataan tersebut diatas, maka mereka berkilah dengan melemparkan sebuah hoax baru ; “hoax –hoax itu pasti perbuatan orang-orang tidak suka dengan agama kita (non agama kita) yang ingin mendiskreditkan agama mulia kita!”. Sikap bodoh yang terus dipelihara akan menjadikan mental umat yang super bodoh.
Posted by Saya at 16:58:01 | Permanent Link | Comments (4) |
Saturday, April 19, 2008
Mari Kita Memilih Tuhan
Tuhan sebuah ada yang sangat abstrak. Tuhan dipercaya hadir dan punya kuasa di alam semesta, tapi tak terjangkau oleh akal pikiran dan panca indera. Manusia selalu tertarik dengan segala macam bentuk kekuatan yang lebih hebat melebihi diri mereka. Pencarian akan kekuatan Yang Maha itu ada sebuah pencarian turun temurun dari generasi - generasi awal manusia dulu sampai hingga zaman ini berakhir.
Lalu bagaimana kita akan mencari akan sesuatu yang tak nampak, dan tak seorangpun di bumi ini pernah menjumpainya secara langsung? Dan bagaimana kita bisa tahu dan percaya bahwa yang kita temukan nanti dalam pencarian kita adalah sosok tuhan yang sebenarnya? Sebuah misteri terbesar dalam kehidupan manusia. Disini agama-agama hadir untuk mencoba sedikit memberi jalan terang pada manusia dalam menyibak misteri tentang ketuhanan. Agama bukan satu-satunya jalan untuk mencari tuhan, Agama memberikan kita panduan termudah untuk bisa merasakan kehadiran tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari. Tapi dengan begitu banyaknya agama yang ada dimuka bumi, dengan paparan tentang tuhan dalam versinya masing-masing, manusia dihadapkan sekali lagi pada sebuah kebingungan baru, agama manakah yang membawa kearah tuhan yang benar? Tuhan yang sebenar-benarnya tetap menjadi misteri bagi manusia hidup. Melalui sifat-sifat yang muncul dari ajaranya-lah, kita dapat mencermati apakah tuhan yang selama ini kita percayai melalui agama, adalah benar tuhan yang sebenar-benarnya?
Kebenaran akan tuhan. Kebenaran sebagai kata kuncinya. Jika kata kebenaran diganti, maka kata tuhan yang mengikutinya jadi tak berarti. Kata benar yang membuat kata tuhan punya arti. Kebanaran tentang tuhan yang berlaku di dalam agama, haruslah kebenaran yang sejati, bukan kebenaran hanya karena klaim semata. Kebenaran sejati pun sebuah kata yang definisinya susah untuk disepakati bersama. Tapi kebenaran sejati memiliki sifat-sifat dasarnya yang walaupun orang tidak mengerti akan definisinya tetap masih bisa merasakan hakikatnya. Kebenaran sejati mempunyai sifat yang selaras dengan hati nurani manusia. Selaras tanpa menimbulkan pertentangan, pertanyaan dan pemaksaan. Contoh –contoh kebenaran sejati bisa kita temui pada alam sekitar kita. Orang tidak perlu berdebat, atau dipaksa untuk mengakui bahwa cabai itu pedas, bahwa api itu panas, bahwa es situ dingin atau bahwa batu itu keras. Cabai dikatakan benar sebagai cabai karenanya sifat-sifatnya. Sifat cabai yang utama adalah pedas. Kalau ada benda yang betuknya sama persis seperti cabai tapi mempunyai rasa yang manis, maka benda itu tidak layak disebut cabai. Hal demikian juga berlaku untuk kebenaran batu, api, es dan benda – benda lainnya termasuk kebenaran akan tuhan.
Bagi para penganutnya, ajaran agama dipandang sebagai sebuah hal yang sacral karena bersumber dari firman-firman tuhan sendiri. Orang akan dengan mudahnya menarik kesimpulan bahwa karena agama adalah sabda tuhan, dan tuhan itu maha benar, maka agama adalah mutlak kebenarannya. Kesimpulan tersebut adalah sebuah kesimpulan yang berbahaya. Karena bisa dikatakan kalau ada ajaran agama yang salah atau buruk karena bertentangan dengan hati nurani kemanusiaan secara umum, maka dapat disimpulkan bahwa tuhan yang merupakan sumber dari ajaran itu adalah tuhan yang salah atau tuhan yang buruk juga!? Dalam teori komunikasi, setiap pesan yang disampaikan oleh komunikan akan selalu berhadapan dengan noise atau gangguan sehingga reduksi pesan adalah hal yang sangat wajar terjadi. Demikian pula dalam agama. Pesan tuhan tidak pernah datang langsung bergema nyaring dari langit. Pesan-pesan tersebut selalu datang melalui perantara. Manusia sebagai perantara mempunyai latar belakang budaya, adat istiadat, pemikiran, politik, dan keinginan-keinginan manusiawi lainnya yang sedikit banyak dapat mereduksi pesan dari tuhan tersebut. Karena sifat dasar tuhan yang serba Maha dan mempunyai kebenaran yang mutlak, kalau ada ajaran agama yang isinya menyimpang bisa muncul berbagi kemungkinan seperti ; kesalahan si pembawa pesan dalam menyampaikan pesan tuhan atau pesan itu bukan datang dari tuhan.
Pertanyaan selanjutnya, bagaimana cara membedakan ajaran tuhan yang benar dengan yang ajaran tuhan yang menyimpang? Hal ini bisa kita cermati dengan mengenali sifat-sifat dari sebuah “kebenaran sejati”, yang diantaranya :
Sifat Tuhan adalah Maha Baik, Maka ajaranya haruslah baik.
Kata baik bisa bermakna sangat relatif, sangat subyektif. Tetapi bila kita cermati lebih dalam, hati setiap manusia telah dilengkapi dengan yang namanya nurani yang secara alamiah akan bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Menyakiti orang lain, membunuh, berperang, secara alamiah akan dinilai buruk oleh nurani manusia. Sebaliknya, senyuman, keramahan, cinta kasih, secara alami akan dinilai oleh nurani sebagai sebuah hal yang baik.
Tuhan itu Maha Kuasa, maka ia tidak perlu memaksakan kebenaran ajaranya.
Kebenaran tuhan mempunyai sifat dasar yang baik. Manusia telah dibekali dengan nurani untuk memilih kebaikan diantara keburukan. Maka sudah semestinya kalau ajaran tuhan itu akan selaras dengan hati manusia. Kebenaran ajaran tuhan akan diterima dengan senang hati tanpa perlu pemaksaan bahkan ancaman. Mengkukuhkan kebenaran sebuah ajaran dengan cara merendahkan dan menjelek-jelekan ajaran lain tanpa fakta yang jelas adalah sebuah kekeliruan besar. Kebenaran yang harus diakui dengan jalan merendahkan kebenaran yang lain, justru menimbulkan keragu-raguan. Ia juga tidak perlu merasa tersaingi dan lalu membenci bila muncul berbagai konsep ketuhanan yang berbeda dalam kelompok-kelompok manusia (agama). Jika masih ada rasa marah dan benci karena konsep ketuhan yang lain dari dirinya, maka tuhan tak lagi maha kuasa!
Sifat Tuhan adalah Kekal, maka kebenaran ajarannya haruslah kekal.
Ajaran-ajaran tuhan yang termuat dalam agama harus mempunyai makna dan sifat yang kekal. Bila ajaran itu bisa diterapkan pada 1000 tahun lalu, maka harus bisa diterapkan lagi secara relevan dalam 1000 mendatang dan sampai saterusnya. Hukum tuhan adalah kekal mengatasi ruang dan waktu. Bila hukum tuhan tersebut terhambat oleh kemajuan zaman, tidak mengatasi lajunya zaman, atau bertentangan dengan keadaan pada masa kini dan mendatang, maka perlu diragukan asal-usulnya.
Tuhan itu Maha Tinggi, Hukumnya harus mengatasi semua hukum buatan manusia.
Hukum tuhan posisinya harus diatas hukum manusia. Hukum tuhan adalah dasar untuk melaksanakan hukum manusia. Jangan sampai kitab suci kalah dihadapkan dengan KHUP! Sangatlah lucu kalau kita harus diganjar dengan hukuman pidana setelah kita terbukti di hadapan sidang secara sah dan meyakinkan, bersalah karena melakukan perbuatan yang bersumber dari hukumnya tuhan?
Tuhan Yang Maha Esa = Tuhan Yang Satu untuk semua manusia.
Bagi para kaum monoteis, kepercayan tentang sebuah ada yang tunggal sebagai penguasa alam semesta adalah sebuah kepercayaan yang sempurna. Dia yang satu, yang menciptakan dan mengayomi beribu-ribu benda nan majemuk, haruslah mempunyai sifat yang universal. Universal berarti bahwa tuhan bisa diterima siapa saja dan mau menerima siapa saja. Ajarannya juga harus universal, bisa masuk kesetiap budaya dan keragaman hidup manusia dengan sekali lagi tanpa paksaan. Ajaran tentu saja bukan hanya milik bangsa tertentu, bahasa tertentu, kelompok tertentu atau hanya agama tertentu saja. Tuhan itu untuk semua orang, bahkan untuk orang –orang yang tidak mempercayainya sekalipun. Cuma manusia yang suka membatasi dirinya dengan pagar-pagar kesukuan, ras, bahasa, dan agama. Kalau tuhan juga memiliki sifat tersebut, apa bedanya dengan manusia? Ia tak layak lagi diberi gelar “Maha”!
Urain diatas berdasarkan pada logika-logika sederhana. Memang benar kalau tuhan itu berada diluar jangkaun pikiran kita, tapi ajarannya sebagai interprestasi dari dirinya sendiri mestinya bisa dinalarkan melalui logika berpikir manusia. Ajaran itu datang untuk manusia, untuk dilaksanakan oleh manusia dan demi kebaikan hidup manusia, maka harus bisa masuk ke logika pemikiran manusia.
Mari kita cermati ajaran dalam agama kita, apakah sesuai dengan sifat-sifat asalnya yang dari tuhan? Bila muncul keraguan itu pertanda baik. Keraguan adalah langkah pertama agar kita semakin dekat mengenal tuhan. Kalau kita tidak berani untuk ragu-ragu dan melakukan instropeksi, kita akan berdiam diri karena merasa sudah mengenal tuhan dengan dekat. Tapi apakah tuhan juga telah dekat mengenal kita?
Posted by Saya at 11:38:38 | Permanent Link | Comments (2) |
Wednesday, April 09, 2008
Kebenaran Akan Tuhan yang Tak Terbatas
Benar atau tidak benar, selalu merupakan pengakuan dari pihak diluar dirinya bukan dari diri sendiri.
Kebenaran itu selaras tanpa pertentangan dan tidak perlu dipaksakan untuk diakui.
Tuhan sebagaimana tuhan yang dikenal oleh manusia secara umum merupakan sebuah ada yang mempunyai sifat-sifat tertentu agar layak disebut tuhan. Manusia mengenal tuhan melalui sifat-sifatnya, seperti halnya manusia yang tak bisa melihat arus listrik tapi tahu kalau arus listrik itu ada dari sifat dan gejala yang muncul karena keberadaan benda tersebut. Sifat tuhan sebagai penguasa alam semesta haruslah serba maha; maha tahu, maha esa, maha kasih, maha pengampun, maha mengerti, maha baik, maha besar, dll. Bisa dikatakan secara sederhana, jika sosok tuhan sebagai sebuah ada yang lebih besar dari segala ada yang terdapat di alam semesta ini, Ia harus memiliki sifat yang tak terbatas. Tuhan haruslah tak terbatas, tidak mempunyai batas, dan universal. Kalau tuhan mempunyai sedikit saja sifat keterbatasan dalam dirinya, maka ia tidak layak disebut tuhan karena mempunyai sifat yang tidak lebih dari alam semesta yang dicipta dan dikuasainya. Keterbatasan dan ketidakterbatasan adalah sifat utama yang membedakan tuhan dengan segala unsur di alam semesta.
Manusia selama hidupnya selalu mencari kebenaran tentang tuhan. Dari zaman ke zaman, manusia selalu kagum dan tertarik dengan kekuatan-kekuatan yang melebihi dirinya. Sebab itu pulalah yang menjadikan adanya kepercayaan terhadap dewa-dewa kuno yang merupakan personifikasi manusia terhadap kekaguman mereka pada fenomena alam disekelilingnya. Dari kekaguman terhadap fenomena alam meningkat pada pertanyaan tentang siapa yang mengatur semua gerak semesta itu? Dengan keresahan baru inilah yang akhirnya mengarahkan manusia kepada sosok tunggal yang berkuasa mengerakan semua unsur semesta, yang kini umum dikenal sebagai tuhan. Kekuatan tunggal penguasa semesta ini sampai sekarang tetap langgeng menjadi dasar dari agama-agama monotheis di dunia.
Sesuai dengan sifat dunia yang serba terbatas, pengetahuan tentang tuhan-pun juga terbatas. Pengetahuan sendiri secara hakiki adalah muncul dari pemahaman akan sesuatu yang yang pasti dan mempunyai bukti. Diluar dari unsur kepastian yang ada, pengetahuan tidak lebih dari asumsi dan prediksi belaka. Pengetahuan tentang tuhan mempunyai keistimewaan karena pengetahuan tersebut bergerak dari nilai-nilai kepercayaan semata. Karena memang sifat tuhan sendiri yang absolut tanpa batas tak mungkin terengkup sepenuhnya dengan akal pikiran manusia manapun juga. Tuhan yang tidak dapat dibuktikan secara langsung, dipercayai sebagai sebuah pengetahuan yang pasti adanya.
Pengetahuan akan tuhan biasanya didapatkan manusia melalui literatur –literatur agama. Setiap agama mempunyai versi tersendiri dalam mengambarkan tuhan. Hal tersebut sangat wajar karena tiap-tiap agama muncul melalui budaya dan zamannya masing-masing. Unsur budaya setempat dan keadaan sosial politik tempat agama itu muncul, tidak dapat dipungikiri ikut memberi warna pada pengetahuan tentang tuhan. Hal ini mengakibatkan bahwa manusia mengenal tuhan sebegai sosok yang dengan karakter yang berbeda-beda tapi tetap dengan satu sifat utamanya yang serba tak terbatas. Beda dalam hal ajaran tentang tuhan adalah wajar, tapi saling mempertentangkan tentang ajaran akan kebenaran satu tuhan diatas tuhan yang lain adalah hal yang tidak wajar dan sangat bodoh. Karena memang tak seorang manusiapun pernah bertemu secara langsung dengan tuhan sendiri. Manusia hanya dibekali cerita dari orang-orang terdahulu para pendiri agama dan kepercayaan tentang siapa itu tuhan. Dan kebenaran dari segala unsur cerita yang menyertai kisah lahirnya agama-agama pada masa lampu belum tentu 100% benar sesuai kejadian aslinya. Kita tak pernah bisa yakin benar secara ilmiah bahwa misalnya, apakah benar Yesus bangkit dari mati, jangan-jangan Ia hanya sekarat saja waktu turun dari salib, atau bahkan Ia tak pernah disalibkan sama sekali? Atau dari mana kita tahu kalau Sidharta mendapat pencerahan tertinggi, jangan – jangan ia hanya berhalusinasi karena terlalu sering puasa dan bermati raga? Dan dari mana dapat dibuktikan bahwa suara yang didengar Muhammad di Gua Hira adalah suara malaikat Jibril, bukannya suara Jin Ifrit atau yang lainnya? Itulah hebatnya agama, bisa memberikan pengetahuan tentang tuhan tanpa mampu membuktikan secara pasti. Jadi bisa disimpulkan bahwa sifat kebenaran akan pengetahuan tentang tuhan dalam agama-agama, adalah pengetahuan yang benar hanya karena dan jika kita mempercayainya. Tentang kebenaran tuhan itu seperti apa sebenar-benarnya, masih menjadi misteri.
Letak konflik antar agama ditimbulkan oleh satu masalah utama yaitu perbedaan pandangan tentang kebenaran tuhan dalam versinya masing-masing. Tuhan yang benar adalah tuhan menurut versi agama saya, versi agama lain salah dan sesat, maka mereka sebenarnya tidak layak disebut umat tuhan, mereka adalah kafir! Pernyataan itulah yang sangat dahsyat efeknya untuk bisa memprovokasi hati agar membenci atau bahkan menghancurkan pemeluk agama lain. Suatu aliran kepercayaan dianggap benar atau salah, bukan ditilik dari baik atau buruknya ajarannya, tetapi hanya karena konsep tuhan yang berbeda saja. Padahal ajaranlah yang seharusnya menjadi titik perhatian umat manusia. Ajaran dalam hal ini adalah nilai-nilai yang terdapat dalam suatu agama yang dapat dipakai oleh manusia dalam kehidupannya sehari-hari. Dalam penerapannya, nilai-nilai hidup dari ajaran agama harusnya lebih dipentingkan daripada pada konsep tentang tuhan itu sendiri. Dalam teori komunikasi, pesan (messege) selalu mendapat tempat lebih tinggi dari pada si pembawa pesan (komunikator). Agama - agama seharusnya sepakat bahwa perilaku manusialah yang akan dinilai kelayakannya untuk dihadiahi surga atau nereka, bukan berdasarkan dari konsep ketuhanan yang mereka percayai. Suatu pertanyaan yang dapat menggambarkan permasalahan di atas yaitu; Misalnya konsep ketuhanan yang benar adalah hanya konsep ketuhannya umat Islam, apakah Suster Theresa yang seorang pejuang kemanusiaan tetap dianggap sebagai pendosa hanya karena mempercayai konsep ketuhanan secara katolik? Mahatma Gandhi juga dianggap pendosa hanya karena Ia mempercayai konsep ketuhanan secara Hindu? Dai Lama juga dianggap pendosa hanya karena Ia mempercayai konsep ketuhanan secara Budha?
Ajaran yang memberikan pandangan bahwa agama yang lain adalah salah, sesat atau kafir karena memiliki konsep ketuhanan yang berbeda dengan agama yang dianutnya sendiri adalah sangat bertentangan dengan sifat tuhan yang tak terbatas. Bila tuhan hanya mengakui umat tertentu saja dan memilih umat berdasarkan konsep ketuhanan yang mereka percayai serta mengajarkan untuk membenci bahkan memerangi umat lain yang mempunyai konsep ketuhanan yang berbeda, itu sudah sangat membuktikan bahwa tuhan yang seperti itu adalah tuhan yang sangat terbatas. Bila tuhan mempunyai sifat semacam itu, maka ia tak layak lagi diberi lebel MAHA. Supaya tuhan tetap maha, tetap tak terbatas, seharusnya ia terbebas dari semua sekat yang ada. Sekat kesukuan, sekat bahasa, sekat geografis, sekat budaya, sekat negara, bahkan sekat agama sekalipun.
Solo, 2007-10-11
Posted by Saya at 14:19:38 | Permanent Link | Comments (4) |
Orang Bilang Tentang Tuhan
Orang bilang Tuhan itu Maha Segalanya
Tapi mengapa Ia terjebak dalam satu bentuk susunan huruf saja.
Susunan huruf yang diberi mahkota
Diberi tahta mulia
Dihormati lebih dari Sang Makna yang dikandungnya.
Orang bilang Tuhan itu Maha Mengampuni
Mengapa menyuruh umatnya untuk membalas?
Dan boleh membunuh atas namaNya!
Mengahalalkan darah orang yang memusuhinya?
Orang bilang Tuhan itu Seniman Tertinggi
Ia menciptakan karya yang paling indah dan sempurna
berupa jagat raya
Mengapa Ia melarang orang berekspresi?
Dan dengan begitu bodoh merasa tersaingi ketika
ada seniman membuat patung atau gambar atas ciptaanNya?
Orang bilang Tuhan itu Maha Mengetahui
Mengapa ia hanya mengenal satu bahasa saja?
Dan hanya menerima satu macam budaya saja?
Untuk apa Ia menciptakan dunia dengan penuh warna?
Orang bilang Tuhan itu Maha Kuasa dan Maha Sempurna
Bukan manusia yang lemah ini tidak perlu membelaNya?
Setitik gula takkan bisa membuat lautan menjadi manis.
tak ada satupun perbuatan manusia yang bisa
menggoyahkan kekusaanya.
Tak satupun hujantan manusia yang bakal melunturkan
kesempurnaanNya.
Dan tak ada satupun perbuatan manusia yang dapat
Menambah kekuasaan dan kesempurnaanNya!
Orang bilang Tuhan itu Maha Kasih
Mengapa mengajarkan memberi kasih yang pilih-pilih?
Mengapa tidak merestui cinta yang datang dari
dua pemahaman berbeda tentang dirinya Nya?
padahal Dia sumber dari segala cinta.
Untuk sebuah perasaan yang muncul secara naluriah yang berasal dari diriNya juga,
dan ketika perasaan itu bersemi sebagai cinta, di halang-halang sendiri oleh
perintah-perintah suciNya.
Orang bilang Tuhan itu Maha Tinggi
Tapi orang juga dengan seenaknya mengkerdilkanNya.
MengkerdilkanNya dengan apa yang dikenal orang sebagai buah ajaran
dari mulutNya sendiri, yaitu AGAMA.
Dan bila Tuhan itu Satu dan Universal sifatnya, Mengapa Ia Punya Satu Agama
Sangat tidak konsisten dengan sifat penciptaanNya yang serba Majemuk !?
Solo, 25 Juli 07
Posted by Saya at 11:20:54 | Permanent Link | Comments (0) |
Tuesday, April 08, 2008
PENYELENGGARAAN ILAHI DALAM TIGA PERAHU PENYELAMAT
Seorang imam duduk di muka meja dekat jendela menyiapkan
khotbah tentang Penyelenggaraan Tuhan, ketika ia mendengar
sesuatu seperti ledakan. Segera ia melihat orang lalu-lalang
berlari-lari dalam kepanikan dan menemukan, bahwa bendungan
telah meledak, sungai meluap dan rakyat sedang diungsikan.
Imam melihat air semakin tinggi di jalanan bawah. Ia merasa
sedikit sulit menekan rasa panik yang mencengkam, tetapi ia
berkata: "Di sini aku sedang menyiapkan khotbah tentang
Penyelenggaraan Tuhan, dan aku mendapat kesempatan untuk
mempraktekkan khotbahku. Aku tidak akan lari seperti
lainnya. Aku akan tetap tinggal di sini dan percaya akan
penyelenggaraan ilahi untuk menolong aku."
Ketika air sudah sampai di jendela, perahu penuh orang
lewat. "Naiklah, pastor" teriak mereka. "Ah tidak anak,"
kata Pastor penuh percaya. "Aku percaya Penyelenggaraan
Tuhan akan menolong aku."
Pastor memang betul naik ke atap, tetapi ketika air sampai
di sana , seperangkat orang dalam perahu lewat, mendesak
pastor agar naik, sekali lagi ia menolak.
Kali ini ia naik ke puncak menara lonceng. Ketika air sampai
di lututnya, seorang petugas dalam perahu motor dikirim
untuk menolongnya. "Terimakasih, saudara," kata Pastor
dengan senyum tenang. "Aku percaya kepada Tuhan. Ia tidak
akan meninggalkan aku."
Ketika pastor tenggelam dan naik ke surga, pertama-tama yang
ia lakukan ialah mengeluh kepada Tuhan. "Aku percaya
kepada-Mu. Mengapa Engkau tidak berbuat apa-apa untuk
menolong aku."
"Ah," kata Tuhan. "Aku sudah mengirim perahu tiga kali."
(DOA SANG KATAK 1, Anthony de Mello SJ, Penerbit Kanisius, Cetakan 12, 1996)
Saya pernah di doktrin oleh orang kristen yang fanatik Injil, tentang penyelenggaraan Ilahi.
Kata Si Fanatikan itu, “ Nggak perlu mencari pemecahan masalah secara duniawi, cukup serahkan semuanya dengan penuh iman kepada kuasa Tuhan, Kalau Kamu beriman dan percaya sepenuhnya kepada Tuhan, kamu nggal perlu Dokter untuk menyembuhkan sakitmu, nggak perlu membaca buku ilmu ini itu, semua ilmu sudah ada di Injil, nggak perlu giat bekerja karena rezeki diatur oleh Tuhan, cukup berkarya demi kerajaan Allah saja”.
Sebagai seorang yang mencintai Ajaran Yesus juga, hal yang paling aku sedihkan dari pernyataan orang tersebut adalah karena pikiran-pikirannya tersebut bukan hanya sebuah kebodohan individual, melainkan sebuah doktrin sempit yang sudah menjadi landasan pemikiran secara sistematik dari sebuah gereja yang mempunyai jemaat cukup besar di kotaku. Menutut ajaran gereja tersebut, Tuhan dipersonifikasikan selayaknya tukang sulap yang karyanya selalu ajaib, atau bagai seorang debitur yang bisa membayar hutang –hutang umatnya dengan cara-cara yang ajaib pula, atau tukang obat, dukun, atau konsultan bisnis. Mereka sangat memuja muzijat dan keajaiban. Semua doa, nyanyian dan pujian, mereka ditujukan agar mudah dapat mujizat. Memang benar Tuhan bisa melakukan semua itu, orang-orang berimanpun pasti akan mempercayainya. Tetapi menyempitkan Kuasa Tuhan adalah sebuah kemunduran dalam nilai-nilai keimanan yang sejati.
Bahaya dari pemikiran ini adalah :
1. Iman Kristen yang Instan; yaitu beriman kepada ajaran Kristus demi mujizat semata. Hal ini merupakan sebuah bentuk penerdilan dari sifat-sifat Tuhan yang seharusnya.
2. Introfet dan Ekslusife; umat akan terfokus pada puji-pujian semata, doa semata, karena menurut mereka itulah syarat bisa dapat mujzat. Kadang mereka lupa akan peringatan Yesus bahwa Iman tanpa Perbuatan adalah MATI! Kegiatan mereka hanya diisi dengan pujian, membaca injil siang dan malam, kesaksian tentang mujizat yang dialami, atau mengiklankan mujizat-mujizat tersebut melalui berbagai media masa. Perbuatan kasih yang sebenarnya adalah sebuah nubuat yang hidup atau pengejawantahan iman menjadi luntur dan terpinggirkan. Agama jadi sarana pemenuhan kebahagian diri sendiri. Bahkan mereka menganggap Iman lebih penting dari pada Cinta Kasih itu sendiri.
3. Kurang Rasa Bersyukur; Mereka selalu memaknai Mujizat sebagai peristiwa-peristiwa besar nan ajaib, seperti orang sakit lumpuh karena stroke setelah di doakan langsung bisa berjalan, usaha mau bangkrut setelah didoakan langsung bisa berkembang dengan baik, dll. Umat jadi kurang menaruh syukur pada peristiwa sehari-hari yang semuanya juga merupakan mujizat dari kuasa Tuhan. Orang bisa hidup bernafas, matahari terbit, benda-benda angkasa bergerak pada jalurnya, alam yang indah, langit yang biru, hasil bumi, teman baik, keluarga, nyamuk yang menggigit kita, itu semua adalah bentuk-bentuk mujizat Tuhan Juga.
4. Malas dan tidak realistis; karena menganggap semua hal akan langsung diberikan oleh Tuhan secara ajaib, maka banyak umat yang jadi malas dan bersikap tidak realistik.
5. Tidak Ikhlas; Cinta akan Yesus haruslah merupakan cinta yang benar-benar tulus. Orang sering bilang, Aku iklas melakukan kebaikan ini, biar Tuhan saja yang membalasnya. Dua pernyataan yang paradoksal digabung menjadi satu. Yang namanya Ikhlas dan tulus harusnya tidak mengharap imbalan apapun baik di bumi maupun dari surga.
6. Penyalahgunaan; Mujizat bisa disalahgunakan untuk kepentingan kelompok semata, atau bahkan kepentingan materi semata. Mujizat adalah cara yang paling efektive untuk menarik pikiran-pikiran sederhana agar tertarik pada Tuhan, atau tertarik menjadi umat di gereja tertentu karena di gereja tersebut banyak terjadi mujizat. Disini, mujizat Tuhan menjelma menjadi sebuah iklan yang manjur untuk menarik umat masuk ke gereja tertentu.
Melalui renungan dari Pastur Demello di atas, ada sebuah ajakan untuk lebih membuka hati dan pikiran atas semua pemeberian Tuhan dalam hidup kita. Pemberian tersebut tidak harus dan tidak selalu muncul dalam hal-hal yang ajaib. Mujizat dalam kesehariannya tampil melalui orang-orang di sekitar kita dalam peran mereka masing-masing. Dokter, orang tua, guru, anak, pedagang, supir, pendeta, polisi, dll, adalah perpanjangan tangan Tuhan agar mujizatnya bisa sampai ke dalam hidup umatnya. Dengan menyadari hal tersebut, hati akan lebih bersyukur dengan segala yang kita terima dan makin menyadari bahwa Tuhan hadir dan melingkupi segala sisi dari hidup ini.
Wasallam......
Posted by Saya at 19:55:09 | Permanent Link | Comments (0) |
Ketika Tuhan BerIklan
Ketika Tuhan Ingin memperkenalkan diri dan ajaran-ajaranNya ke tengah dunia, Maka Ia beriklan. Bayangkan kalau Ia tidak mengiklanya diriNya, maka manusia mungkin tidak tahu kalau Ada yang NamaNya Tuhan di alam semesta ini. Sama seperti produk lainnya, hal terpenting dari sebuah iklan adalah posisioning. Posisioning agar mudah di cerna oleh para manusia di dunia perlu adanya proses ikonisasi yang berupa simbol-simbol. Maka Tuhan menyimbolkan diri dan ajaran-ajaranNya melalui; Yesus untuk orang Kristen, Sidharta Budha Gautama untuk orang Budha, Siva untuk orang Hindu, dll. Simbol disini memegang peranan sangat penting agar manusia punya acuan untuk membayangkan dan menginterprestasikan Sifat-sifat Tuhan yang tak tampak. Simbol dengan yang di simbolkan tidak dapat dipisahkan karena pada hakikatnya adalah satu, simbol merupakan sarana pendekatan agar ide tentang Tuhan lebih mudah diterima. Sehingga, Tuhan tak perlu datang secara absolute ke tengah dunia sendiri karena justru membuat orang mabuk ketabjukan. Satu alasan simple hal itu tidak dilakukanNya karena ide Tuhan yang secara langsung hadir tak bisa masuk ke dalam benak manusia yang terbatas. Maka Tuhan memilih simbol tentang dirinya yang mudah diterima oleh benak manusia yaitu berupa manusia juga. Tanpa Simbol, orang hanya bisa samar-samar menebak Sifat Tuhan. Tanpa Simbol, Tuhan bisa diartikan dan sesuai kehendak manusia, bahkan Tuhan bisa di beri label-label sifat yang hanya untuk mencari keuntungan manusia sendiri. Adanya Simbol Tuhan Yang Hidup di Bumi Manusia, tidaklah mengurangi kemuliaan Tuhan. Tuhan sejati adalah tanda atau ide, sedangkan symbol-simbolnya adalah penanda. Seperti halnya ikon dalam desktop computer kita. Gambar Komputer mewakili aplikasi My Computer, Gambar Tong Sampah mewakili aplikasi Recycle Bin, dll. Tanpa ikon-ikon kita kesulitan untuk mengakses file, program dan aplikasi yang kita inginkan. Ketika kita me-double click ikon maka terbukalah file, program dan aplikasi yang diinginkan. Demikinan juga dengan symbol Tuhan. Ketika kita menaati Perbuatan dan perkataan Para Symbol Tuhan, kita menaati Tuhan. Karena dengan mengenal symbol maka kita akan mengenal Apa Yang Di Simbolkan juga, dan keduanya tidak dapat dipisahkan.
Setelah memilih Simbol, maka perlu bentuk penyampaian yang sesuai dengan segment-nya. Sifat Tuhan adalah Universal, tapi manusia yang menerimanya mempunyai latar belakang kehidupan yang berbeda-beda. Dari faktor geografis, kebangsaan dan budaya sangat berpengaruh terhadap penerimaan pesan-pesan yang disampaikan. Tuhan sadar betul akan pentingnya field of experience and preference dari manusia untuk ke efektifan proses komunikasiNya. Maka ia hadir dengan Iklan yang dibuatNya dalam berbagai versi. Dari versi-versi inilah muncul berbagai ajaran di dunia yang untuk memudahkan manusia menyebutnya dengan agama. Walaupun berbagai versi dimunculkan, Tuhan sangatlah pintar untuk tidak melupakan bahwa akan bagaimanapun pesanNya dimuat, akan dibuat jutaan versi dengan simbolnya masing-masing sekalipun, tetap harus sebagai sebuah pesan tunggal. Kasih dalam Tuhan dan Sesama adalah sebuah pesan tunggal Tuhan dari setiap versi iklannya dalam bahasa dan versi apapun. Ada istilah-istilah muncul selanjutnya seperti, Hukum Cinta Kasih, Ukuwah, Sepuluh Perintah Allah, Dharma, Shamadi, semuanya itu mengacu pada satu hal yang sama. Pesan tunggal yang dikemas dalam berbagai bentuk tetap harus universal dan tidak membuat pertentangan antara versi Iklan satu dengan yang lainnya. Universal disini adalah harus bisa masuk dalam semua sisi kehidupan manusia dibelahan bumi manapun, bangsa apapun, hukum apapun, sampai kapanpun. Sangatlah mustahil bila sebuah pesan dalam iklan bisa diharapkan keefektifitasannya tapi hanya muncul dalam satu versi iklan saja, apalagi dalam kemasan satu bahasa saja, untuk seluruh umat manusia yang sangat beragam.
Setelah memunculkan berbagai symbol dan versi iklan tentang sifat dan ajaranNya, Tuhan juga memerlukan Marketing dan PR untuk memperkenalkan dirinya. Lagi-lagi karena keterbatasan pikiran manusia, setelah ada iklan perlu diadakan pengenalan lebih dalam lagi atas pesan-pesan Tuhan agar benar-benar efektif. Para Marketing dan PR ini bertugas menggiring manusia ke tingkat action. Setelah tahu, kenal, dan paham, tahap terakhir keberhasilan sebuah pesan dalam iklan adalah adanya tindakan dari komunikan. Karena yang diiklannya adalah ajaran hidup, maka yang harus dilihat adalah buah kehidupan dari manusia itu sendiri. Bila manusia bisa menerapkan kasih sebagai pesan tunggal Tuhan dalam setiap sisi kehidupannya, maka Iklan yang dibuat Tuhan berhasil. Peran Marketing dan PR haruslah tidak seperti penjual obat di pinggir jalan yang hanya menjual kata-kata saja. Sebelum ber-marketing, mereka harus paham betul produk yang dibawanya. Penguasaan akan product knowledge adalah mutlak agar mereka tidak justru menyesatkan pikiran manusia dan semakin jauh dari pesan awal dari iklanNya Tuhan. Akan lebih baik bila mereka bisa meberi contoh nyata melalui hidupnya sendiri agar walaupun mereka sedang tidak buka mulut, proses marketing dan ke-PR-an itu tetap terus berjalan. Pada hakikatnya semua manusia adalah marketing dan PR dari sifat-sifat Tuhan, tapi memang ada orang-orang tertentu yang mempunyai kemampuan lebih karena bakat alam atau memang khusus belajar tentang hal tersebut. Sebuah strategi marketing yang handal adalah dengan menjadikan semua orang yang pernah kita prospek jadi marketing pula pada akhirnya, sehingga pesan akan semakin cepat tersebar dengan luas. Bermacannya simbol dan versi iklan Sifat Tuhan, menciptakan banyak marketing yang masing-masing mempunyai wilayah operasinya sendiri-sendiri. Setiap area pemasaran punya program dan gaya tersendiri sesuai dengan segment yang dihadapinya. Persaingan mutlak tidak ada karena setiap Marketing dan PR punya area kerja sendiri. Dan tolok ukur keberhasilan kerja mereka adalah tidak dilihat secara kuantitatif tapi lebih ke kualitatif. Tuhan sebagai CEO-nya proyek ini akan menilai mutu pemahaman dan pelaksanaan pesan dari IklanNya, dari pada menghitung-hitung berapa jumlah orang yang telah menyimak Iklan Nya saja.
Sudah terbukti konsep beriklan yang hard selling sudah kuno, tidak efektif, dan memberi sentiment negative pada citra produk yang diiklankan. Cara mengiklankan Tuhan dengan Berteriak-teriak di jalanan, dengan pamer kekuatan, dengan mengumbar janji Surgawi dan menakut-nakuti manusia akan neraka sudah tidak efektif di jaman yang semakin maju dan manusia-manusia yang semakin kritis serta pandai. Hal itu Cuma efektif kalau manusia sekarang masih hidup nomaden di tenda-tenda, tanpa ilmu dan budaya yang tinggi. Yang perlu dilakukan adalah sebuah pendekatan Marketing dan PR yang harmonis. Iklan tidak lagi membujuk tapi menyadarkan, tidak lagi membohongi tapi mengedukasi dan tidak lagi memberi ancaman dan janji tetapi memberi bukti.
Iklan tidak dapat dipaksakan, kalau dipaksakan orang justru menghindar. Iklan haruslah di tanamkan sedikit-sedikit melalui proses yang berkesinambungan. Iklan tidak lagi memaksa orang untuk butuh akan produk, tapi menimbulkan kesadaran kalau produk itu dibutuhkan. Dengan demikin konsumen akan lebih aktif dalam mencari informasi tentang produk tersebut. Semua harus didasarkan keselarasan yang nyaman kalau target yang dikejar dalam Iklanya Tuhan adalah pelaksanaan ajaran Tuhan, bukan hanya mengejar besarnya jumlah orang yang pernah mendengar tentang ajaran Tuhan saja.
Dari Lahir kita telah menjadi sasaran dari Iklan tentang Tuhan. Sudah sampai tahap manakah pesan dalam iklan-iklan tersebut masuk ke dalam hidup kita? Kalau sampai puluhan Tahun kita belum bisa mengenal Sifat Tuhan dan menjalankannya dalam Kehidupan, kita mungkin harus complain pada Tuhan agar menganti biro iklan beserta Marketing dan PR-nya yang bertugas di area hidup kita, karena mereka tak becus dalam membuat iklan tentang Tuhan. Iklan Tentang Tuhan, dimanapun selalu membawa pencerahan dan kedamaian, bukan kegelapan dan permusuhan.
Monday, January 5, 2009
10 Cara Merontokkan Hati
TERNYATA untuk memikat hati idamanmu, ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan. Salah satunya ialah kepribadian seseorang. Melalui kepribadian yang baik, si dia tak akan ragu memilihmu.
Nah, sebelum kamu memikat hati sang pujaan hati, sebaiknya kenali dulu beberapa kepribadian tersebut.
1. Ketulusan menempati peringkat pertama sebagai sifat yang paling disukai oleh semua . Ketulusan membuat orang lain merasa aman dan dihargai karena yakin tidak akan dibodohi atau dibohongi. Pria yang tulus selalu mengatakan kebenaran, tidak suka mengada-ada, pura-pura, mencari-cari alasan atau memutarbalikkan fakta.
2. Beda dengan rendah diri yang merupakan kelemahan, sifat rendah hati justru mengungkapkan kekuatan. Hanya pria yang kuat jiwanya yang bisa bersikap rendah hati. Ia seperti padi yang semakin berisi, semakin menunduk. Pria yang rendah hati bisa mengakui dan menghargai keunggulan orang lain. Ia bisa membuat orang yang di atasnya merasa oke dan membuat orang yang di bawahnya tidak merasa minder.
3. Kesetiaan sudah menjadi barang langka dan sangat tinggi harganya. Pria setia selalu bisa dipercaya dan diandalkan. Dia selalu menepati janji, punya komitmen yang kuat, rela berkorban, dan tidak suka berkhianat. Karena itu, pria dengan kepribadian seperti ini sudah tentu akan dipilih
4. Pria yang bersikap positif selalu berusaha melihat segala sesuatu dari kacamata positif, bahkan dalam situasi yang buruk sekalipun. Dia lebih suka membicarakan kebaikan daripada keburukan orang lain, lebih suka bicara mengenai harapan daripada keputusasaan, lebih suka mencari solusi daripada frustasi, lebih suka memuji daripada mengecam.
5. Karena tidak semua orang dikaruniai temperamen ceria, maka keceriaan tidak harus diartikan ekspresi wajah dan tubuh, tapi sikap hati. Pria yang ceria adalah mereka yang bisa menikmati hidup, tidak suka mengeluh, dan selalu berusaha meraih kegembiraan. Dia bisa mentertawakan situasi, orang lain, juga dirinya sendiri. Dia punya potensi untuk menghibur dan mendorong semangat orang lain.
6. Pria yang bertanggung jawab akan melaksanakan kewajibannya dengan sungguh-sungguh. Kalau melakukan kesalahan, dia berani mengakuinya. Ketika mengalami kegagalan, dia tidak akan mencari kambing hitam untuk disalahkan. Bahkan kalau dia merasa kecewa dan sakit hati, dia tidak akan menyalahkan siapapun. Dia menyadari bahwa dirinya sendirilah yang bertanggung jawab atas apapun yang dialami dan dirasakannya.
7. Rasa percaya diri memungkinkan seseorang menerima dirinya apa adanya, menghargai dirinya dan menghargai orang lain. Pria yang percaya diri mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan dan situasi yang baru. Dia tahu apa yang harus dilakukannya dan melakukannya dengan baik.
8. Kebesaran jiwa dapat dilihat dari kemampuan seseorang memaafkan orang lain. Seorang pria yang berjiwa besar tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh rasa benci dan permusuhan. Ketika menghadapi masa-masa sukar dia tetap tegar, tidak membiarkan dirinya hanyut dalam kesedihan dan keputusasaan.
9. Pria yang easy going menganggap hidup ini ringan. Dia tidak suka membesar-besarkan masalah kecil. Bahkan berusaha mengecilkan masalah-masalah besar. Dia tidak suka mengungkit masa lalu dan tidak mau khawatir dengan masa depan. Dia tidak mau pusing dan stres dengan masalah-masalah yang berada di luar kontrolnya.
10. Empati adalah sifat yang sangat mengagumkan. Pria yang berempati bukan saja pendengar yang baik, tapi juga bisa menempatkan diri pada posisi orang lain. Ketika terjadi konflik, dia selalu mencari jalan keluar terbaik bagi kedua belah pihak, tidak suka memaksakan pendapat dan kehendaknya sendiri. Dia selalu berusaha memahami dan mengerti orang lain
Nah, sebelum kamu memikat hati sang pujaan hati, sebaiknya kenali dulu beberapa kepribadian tersebut.
1. Ketulusan menempati peringkat pertama sebagai sifat yang paling disukai oleh semua . Ketulusan membuat orang lain merasa aman dan dihargai karena yakin tidak akan dibodohi atau dibohongi. Pria yang tulus selalu mengatakan kebenaran, tidak suka mengada-ada, pura-pura, mencari-cari alasan atau memutarbalikkan fakta.
2. Beda dengan rendah diri yang merupakan kelemahan, sifat rendah hati justru mengungkapkan kekuatan. Hanya pria yang kuat jiwanya yang bisa bersikap rendah hati. Ia seperti padi yang semakin berisi, semakin menunduk. Pria yang rendah hati bisa mengakui dan menghargai keunggulan orang lain. Ia bisa membuat orang yang di atasnya merasa oke dan membuat orang yang di bawahnya tidak merasa minder.
3. Kesetiaan sudah menjadi barang langka dan sangat tinggi harganya. Pria setia selalu bisa dipercaya dan diandalkan. Dia selalu menepati janji, punya komitmen yang kuat, rela berkorban, dan tidak suka berkhianat. Karena itu, pria dengan kepribadian seperti ini sudah tentu akan dipilih
4. Pria yang bersikap positif selalu berusaha melihat segala sesuatu dari kacamata positif, bahkan dalam situasi yang buruk sekalipun. Dia lebih suka membicarakan kebaikan daripada keburukan orang lain, lebih suka bicara mengenai harapan daripada keputusasaan, lebih suka mencari solusi daripada frustasi, lebih suka memuji daripada mengecam.
5. Karena tidak semua orang dikaruniai temperamen ceria, maka keceriaan tidak harus diartikan ekspresi wajah dan tubuh, tapi sikap hati. Pria yang ceria adalah mereka yang bisa menikmati hidup, tidak suka mengeluh, dan selalu berusaha meraih kegembiraan. Dia bisa mentertawakan situasi, orang lain, juga dirinya sendiri. Dia punya potensi untuk menghibur dan mendorong semangat orang lain.
6. Pria yang bertanggung jawab akan melaksanakan kewajibannya dengan sungguh-sungguh. Kalau melakukan kesalahan, dia berani mengakuinya. Ketika mengalami kegagalan, dia tidak akan mencari kambing hitam untuk disalahkan. Bahkan kalau dia merasa kecewa dan sakit hati, dia tidak akan menyalahkan siapapun. Dia menyadari bahwa dirinya sendirilah yang bertanggung jawab atas apapun yang dialami dan dirasakannya.
7. Rasa percaya diri memungkinkan seseorang menerima dirinya apa adanya, menghargai dirinya dan menghargai orang lain. Pria yang percaya diri mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan dan situasi yang baru. Dia tahu apa yang harus dilakukannya dan melakukannya dengan baik.
8. Kebesaran jiwa dapat dilihat dari kemampuan seseorang memaafkan orang lain. Seorang pria yang berjiwa besar tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh rasa benci dan permusuhan. Ketika menghadapi masa-masa sukar dia tetap tegar, tidak membiarkan dirinya hanyut dalam kesedihan dan keputusasaan.
9. Pria yang easy going menganggap hidup ini ringan. Dia tidak suka membesar-besarkan masalah kecil. Bahkan berusaha mengecilkan masalah-masalah besar. Dia tidak suka mengungkit masa lalu dan tidak mau khawatir dengan masa depan. Dia tidak mau pusing dan stres dengan masalah-masalah yang berada di luar kontrolnya.
10. Empati adalah sifat yang sangat mengagumkan. Pria yang berempati bukan saja pendengar yang baik, tapi juga bisa menempatkan diri pada posisi orang lain. Ketika terjadi konflik, dia selalu mencari jalan keluar terbaik bagi kedua belah pihak, tidak suka memaksakan pendapat dan kehendaknya sendiri. Dia selalu berusaha memahami dan mengerti orang lain
Badan Penyelamat Cinta (BPC)
Sebagai orang yang memiliki SSA (apalagi yang pernah merasakan nimatnya melakukan hubungan seksual dengan sesama jenis), pastilah kita pernah merasakan konflik antara dorongan dan kenikmatan homoseksual kita dengan nilai2 yang mengutuk perilaku dan perasaan tersebut. Konflik itu berupa rasa bersalah atau berdosa, yang menimbulkan depresi dan kebingungan, sehingga berkuranglah kenikmatan kita dalam melakukan hubungan homoseksual. Kita mungkin juga pernah berusaha mencari pembenaran atas perasaan dan perilaku kita, dengan harapan bisa meredakan konflik tersebut.
Salah satu jalan yang ditempuh guna melakukan pembenaran itu adalah dengan mentafsir ulang nilai homoseksual di mata budaya, masyarakat, dan agama. Seperti yang sudah kita ketahui, agama (yang lahir di Timur Tengah) merupakan ‘musuh alami’ dari perilaku homoseksual. Dalil2 yang mengutuk perilaku homoseksual berlimpah-ruah, sehingga umatnya yang kebetulan memiliki SSA dan mewujudkan dorongannya ke dunia nyata dalam bentuk perilaku homoseksual dijamin akan mengalami pertentangan batin dalam bentuk rasa berdosa, kepada Tuhan dan malu jika diketahui oleh masyarakat yang menganut keyakinan yang sama. Dengan mentafsir ulang dalil2 tersebut menjadi lebih friendly, pentafsir dan pengikut tafsiran tersebut diharapkan bisa menjalankan perilaku homoseksualnya dengan nikmat dan tanpa rasa berdosa.
Salah satu contoh pemelintiran dalil agama bisa dibaca pada situs http://www.freewebs.com/salamogay , dimana penulisnya bersusah-payah meniti keyakinan homoseksual itu tidak berdosa, dengan berakrobat melompati dalil2 yang jelas2 menyatakan demikian. (Itu jika dianalogikan dengan pemain akrobat. Bisa juga kita analogikan dengan pesulap yang mengubah benda2 dengan trik2nya, atau pembuat martabak yang membolak-balikkan martabaknya di penggorengannya.) Berikut ini adalah trik2nya:
1.
Menimbulkan anggapan seolah-olah para ahli kedokteran dan kejiwaan bersepakat bahwa homoseksualitas bukan penyakit, tidak diketahui penyebabnya, dan tidak bisa ‘disembuhkan.’ Menurutnya, orang awamlah (baca: heteroseksual) yang bertanggung jawab menilai mereka sebagai ‘sakit.’
2.
Di satu sisi berusaha memisahkan antara aturan eksak dan non-eksak, di sisi lain berusaha mencampuradukkan eksak dan agama dengan menimbulkan anggapan seolah-olah ahli kejiwaan berpendapat bahwa menjadi gay adalah karena takdir.
3.
Menyangkal kemampuan dan kenyataan sebagian homoseks untuk menikah, dengan menimbulkan anggapan seolah-olah fakta itu bohong tanpa kecuali.
4.
Menyamakan kompleksitas homoseksual dengan atribut sederhana seperti misalnya warna kulit, atau dengan refleks2 seperti bernafas.
5.
Melakukan kesalahan fatal dalam mengangkat dalil perzinahan, dalam hal jumlah saksi, kriteria perilaku zinah, status anak hasil perzinahan, kewajiban pezinah, dan kemahapengampunan Allah swt.
6.
Menimbulkan anggapan bahwa pria homoseksual yang menikah pasti akan berselingkuh, dan tidak mungkin mencintai anak kandungnya dengan setulus hati.
7.
Menggunakan gaya debat “daripada”, sehingga seolah-olah apa yang dibelanya adalah hal yang baik. Biasanya, para remaja membandingkan masturbasi dengan hubungan seks pranikah untuk menonjolkan betapa ringannya dosa masturbasi dan karenanya dianggap baik, padahal sebetulnya cuma lebih baik, dan itu tidak sama dengan baik. Dalam hal ini, ia membandingkan perilaku homoseksual dengan bunuh diri. Ia berharap bisa memeras Tuhan menggunakan logika keterpaksaan.
8.
Mencampuradukkan unsur-unsur homoseksualitas, sehingga pembaca yang tidak jeli gampang terjebak dalam logikanya. Dalam homoseksualitas, ada unsur arah ketertarikan, dorongan seksual, perilaku seksual, dan sikap terhadap seksualitasnya. Boleh jadi seseorang dilahirkan dengan bakat arah dorongan seksual ke sesama jenis, namun ia punya andil untuk menentukan takdirnya apakah akan mendapat murka atau ridha-Nya dengan cara berperilaku atau tidak berperilaku sebagaimana yang disukai-Nya. Namun si penulis menggunakan istilah gay, seolah-olah orang yang memiliki arah ketertarikan ke sesama jenis pasti akan mewujudkan dorongannya menjadi perilaku homoseksual, dan ridha (tidak menyesali) perilakunya. Ia mereduksi identitas seksual berdasarkan orientasi seksualnya saja.
9.
Bukti utama yang menunjukkan bahwa ia mengagungkan pikirannya dan meremehkan agama adalah pemenangan buah pikirannya atas dalil2 agama yang telah ditafsirkan oleh para cendekiawan dan ulama Islam, tanpa melalui proses pengkajian, misalnya peer review.
10.
Tidak menangkap inti dari ayat2 Quran yang berkisah mengenai umat Luth as. Inti kecaman Allah swt dan Luth as terhadap umat Luth as adalah agar umat Luth as itu mengubah perilaku homoseksualnya menjadi heteroseksual dan menata hatinya (bertakwa), bukan agar mereka menyukai lawan jenis Tujuannya adalah proses atau usaha, bukan untuk hasilnya karena Allah swt yang menentukan hasilnya. Bahkan seandainya nyata2 ayat Quran menceritakan umat Luth as akhirnya bertobat dan hidup secara heteroseksual, ia tetap gigih mengingkarinya.
11.
Menggunakan elemen-elemen nasrani untuk menata dalil2 islami, misalnya salib, sifat manusiawi tuhan (kecewa, terpaksa, merespon dengan buruk, meminta), dan peran malaikat sebagai korban pelecehan umat Luth as. Dalam hal salib, Islam sangat tegas melarang umatnnya dari menggunakan simbol-2 agama lain. Pensifatan tuhan seperti itu justru melemahkan ke-Maha-an Allah swt. Sedangkan peran malaikat, justru ayat2 al Quran menjelaskan bahwa azab itu dipersiapkan sebelum malaikat itu sampai ke kota terkutuk itu. Jadi, Allah swt tidak mengumpankan malaikat2 itu supaya punya alasan untuk membalikkan kota itu.
Konklusi:
Bisa ditarik gambaran kepribadian si penulis, ia adalah seorang homoseksual yang gagal mengalahkan nafsunya. Ia beranggapan bahwa hidupnya akan jauh lebih ringan apabila ia menjatuhkan diri dan menyerah kepada nafsunya, bukannya tunduk kepada nilai-nilai agama. Agar agama tidak lagi mengganggu aktivitasnya bersenang-senang dengan aktivitas homoseksualnya, maka ia berusaha untuk memelintir dalil2 tersebut agar sesuai dengan keinginannya dan tunduk kepada nafsunya.
Ia pernah mengalami penderitaan akibat tekanan dari orang-orang di sekitarnya (yang heteroseks) berupa kecaman, tudingan, dan desakan untuk menikah. Sayangnya, orang-orang heteroseks di sekitarnya tidak siap untuk membimbing dengan empatis, bahkan tidak pula mampu memberi contoh yang baik, misalnya masih suka berzina. Akibatnya, timbullah karakter ‘heterophobia.’
Tiadanya contoh yang baik dan bimbingan yang empatis inilah yang membuatnya semakin ragu dengan kebenaran hakiki yang diwakili oleh agama. Agama di matanya menurun nilai dari wahyu Tuhan menjadi produk heteroseksis. Meski demikian, karena ia ingin agar meraih banyak dukungan di tengah masyarakat yang masih memegang nilai agama, maka ia berusaha untuk memperhalus penyampaiannya dan secara politis menimbulkan anggapan bahwa yang salah adalah tafsirannya, bukan wahyu-Nya. Karena yang menafsirkan adalah orang-orang awam yang heteroseks, maka tafsirannya pun memihak heteroseks dan meminggirkan homoseks.
Karena itu pulalah, ia berusaha untuk meniadakan tekanan yang dialaminya untuk menikah, dengan cara mengatasnamakan fiqih, seolah-olah fiqih Islam melarang pernikahan yang dilakukan oleh seorang homoseks. Padahal, ini hanyalah hasil buah pikirnya, yang tidak otomatis diterima menjadi fiqih Islam. Justru dalam Al-Quran ditemukan dalil yang mewajibkan orang-orang yang memiliki SSA untuk menikah, yaitu Huud 78-79:
78.
Dan datanglah kepadanya kaumnya dengan bergegas-gegas. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji. Luth berkata: "Hai kaumku, inilah puteri-puteriku, mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini. Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal?"
79.
Mereka menjawab: "Sesungguhnya kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan terhadap puteri-puterimu; dan sesungguhnya kami tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki."
Lebih jauh lagi, ia berusaha mendapatkan pembenaran untuk mengharamkan pernikahan orang ber-SSA secara mutlak, dengan menetapkan standar ganda bahwa kalau ada orang dengan SSA berkadar kecil, maka haram untuk menikah. Lalu, bagaimanakah dengan orang homoseks yang memiliki kadar heteroseksual 1%, tidakkah ia juga jadi haram berhubungan homoseksual?
Pada dasarnya, ia bukanlah seseorang yang tertarik pada upaya mencari dan menemukan kebenaran yang sejati; Ia hanya ingin agar bisa bersenang-senang dengan perilaku homoseksualnya. Oleh karena itu, ia tidak segan-segan untuk berpindah-pindah pihak dan pendirian, asalkan tujuannya tercapai. Buktinya, ada ketidakkonsistenan dalam uraiannya. Mula2 ia mati2an berusaha menegaskan bahwa para ahli berpendapat kalau homoseksualitas bukanlah penyakit. Namun kemudian ia berusaha mendapatkan keringanan bagi homoseksual, dengan cara menganalogikannya dengan penyakit. Ketidakkonsistenan yang sama juga ditemukan pada pernyataannya bahwa bayi2 lahir tanpa dipaksa, namun selanjutnya ia bertanya, mengapa memaksa bayi-2 itu lahir.
Pandangannya tentang homoseksualitas sebagai bencana tidak sesuai dengan fakta yang banyak ditemui. Orang-orang yang memiliki SSA dalam dirinya tidak meratapi hilangnya kemungkinan untuk menikah dan memiliki anak. Mereka hanya bertanya-tanya, apakah jika aku menikah kelak, aku bisa berhubungan seksual dengan istriku? Kenapa aku dapat cobaan seperti ini? Boro2 mau berpikir soal punya anak, apalagi pahala pernikahan.
Dalam upayanya memelintir dalil2 agama, akhirnya ia menemui jalan buntu berupa ketidakkonsistenan. Namun demikian, jalan buntu ini semestinya bisa dihindari andaikata ia mau mengakui bahwa yang ia coba benturkan sebenarnya bukanlah 2 dalil agama, melainkan dalil agama dengan angan2nya sendiri!
Seandainya mampu, ia pasti akan mencoba memeras Tuhan. Buktinya, ia menggunakan logika “terpaksa” untuk membolehkan perilaku homoseksual. Ia mencoba berdalih di hadapan Tuhan, “Karena Engaku tidak mengijinkan aku bunuh diri, maka bolehkan aku berperilaku begini. Biarkan aku bersenang-senang. Jika tidak, ijinkan aku bunuh diri!”
Kesalahan2 yang dilakukan oleh penulis meyakinkan kita bahwa sebenarnya ia sama sekali bukan muslim! Ia adalah nonmuslim yang mengambil sumber2 dalil2 Islami, dan meramunya dalam logika yang dikendalikan oleh nafsunya. Ini dibuktikan dengan menata logika berdasar dalil2 islami dalam lambang agama nasrani (salib), kesalahan dalam menjelaskan seluk-beluk hudud bagi zinah, peran malaikat sebagai calon korban pelecehan oleh kaum Luth as, dan pensifatan Tuhan yang terlalu manusiawi (Tuhan terpaksa, tuhan kecewa, tuhan meminta, tuhan merespon dengan buruk). Pensifatan ini lebih lazim dalam Bibel dan ajaran nasrani, namun tanpa bukti yang nyata tentunya kita tidak boleh sembarangan menuduh.
Pendek kata:
*
Bisa jadi ia muslim, bisa juga nonmuslim. Apapun itu, ia termasuk yang berpandangan liberal. Namun kemungkinan lainnya, ia adalah orang yang tidak beragama; Agama digunakannya sebagai alat saja.
*
Tidak mengikuti perkembangan ilmu yang terbaru atau sengaja melewatkannya karena tidak ingin ‘sembuh’ dan dituntut untuk ‘sembuh.’ Ia bahkan tidak mengetahui bagaimana proses penentuan abnormalitas suatu fenomena oleh para ahli edis dan kejiwaan.
*
Sehubungan dengan homoseksualitasnya, ia mendapatkan pengalaman yang tidak menyenangkan dari orang-orang heteroseks di sekitarnya, sehingga tumbuh jadi seorang ‘heterophobia,’ serta overestimate terhadap kebaikan gay.
*
Banyak pengalaman di komunitas gay, sehingga menarik kesimpulan bahwa para gay pasti berselingkuh dari istrinya. Namun ia tidak memiliki pengalaman di komunitas non-gay yang masih berkonflik batin atau sudah menikah.
*
Oportunis, machiavellian. Ia tidak segan-segan untuk berkhianat, berpindah pihak, dan menjungkirbalikkan norma agar seleranya seolah-olah sah.
*
Tidak toleran terhadap orang lain yang senasib, tapi tidak seperjuangan. Yaitu orang-orang yang merasakan ketertarikan homoseksual tapi berusaha mengekangnya dan melampiaskan dorongan itu dalam ikatan pernikahan yang sah.
Sebagai penutup bisa dikatakan bahwa upaya untuk merombak tatanan yang anti-homoseksual bukanlah hal yang baru, Satu per satu batu penghalang sudah berhasil dijungkirkan. Kini, giliran agama yang dicoba dijungkirbalikkan. Hanya para gay yang cukup putus asa terhadap rahmat Allah sajalah saja yang bersegera mengikutinya, demi memuaskan nafsunya. Persis seperti kaum Luth as yang bersegera untuk menyambut kehadiran tamu-tamu Luth as. Dan mereka, sebagaimana yang telah digambarkan dalam Al Quran, benar2 terombang-ambing dalam kesesatan.
Salah satu jalan yang ditempuh guna melakukan pembenaran itu adalah dengan mentafsir ulang nilai homoseksual di mata budaya, masyarakat, dan agama. Seperti yang sudah kita ketahui, agama (yang lahir di Timur Tengah) merupakan ‘musuh alami’ dari perilaku homoseksual. Dalil2 yang mengutuk perilaku homoseksual berlimpah-ruah, sehingga umatnya yang kebetulan memiliki SSA dan mewujudkan dorongannya ke dunia nyata dalam bentuk perilaku homoseksual dijamin akan mengalami pertentangan batin dalam bentuk rasa berdosa, kepada Tuhan dan malu jika diketahui oleh masyarakat yang menganut keyakinan yang sama. Dengan mentafsir ulang dalil2 tersebut menjadi lebih friendly, pentafsir dan pengikut tafsiran tersebut diharapkan bisa menjalankan perilaku homoseksualnya dengan nikmat dan tanpa rasa berdosa.
Salah satu contoh pemelintiran dalil agama bisa dibaca pada situs http://www.freewebs.com/salamogay , dimana penulisnya bersusah-payah meniti keyakinan homoseksual itu tidak berdosa, dengan berakrobat melompati dalil2 yang jelas2 menyatakan demikian. (Itu jika dianalogikan dengan pemain akrobat. Bisa juga kita analogikan dengan pesulap yang mengubah benda2 dengan trik2nya, atau pembuat martabak yang membolak-balikkan martabaknya di penggorengannya.) Berikut ini adalah trik2nya:
1.
Menimbulkan anggapan seolah-olah para ahli kedokteran dan kejiwaan bersepakat bahwa homoseksualitas bukan penyakit, tidak diketahui penyebabnya, dan tidak bisa ‘disembuhkan.’ Menurutnya, orang awamlah (baca: heteroseksual) yang bertanggung jawab menilai mereka sebagai ‘sakit.’
2.
Di satu sisi berusaha memisahkan antara aturan eksak dan non-eksak, di sisi lain berusaha mencampuradukkan eksak dan agama dengan menimbulkan anggapan seolah-olah ahli kejiwaan berpendapat bahwa menjadi gay adalah karena takdir.
3.
Menyangkal kemampuan dan kenyataan sebagian homoseks untuk menikah, dengan menimbulkan anggapan seolah-olah fakta itu bohong tanpa kecuali.
4.
Menyamakan kompleksitas homoseksual dengan atribut sederhana seperti misalnya warna kulit, atau dengan refleks2 seperti bernafas.
5.
Melakukan kesalahan fatal dalam mengangkat dalil perzinahan, dalam hal jumlah saksi, kriteria perilaku zinah, status anak hasil perzinahan, kewajiban pezinah, dan kemahapengampunan Allah swt.
6.
Menimbulkan anggapan bahwa pria homoseksual yang menikah pasti akan berselingkuh, dan tidak mungkin mencintai anak kandungnya dengan setulus hati.
7.
Menggunakan gaya debat “daripada”, sehingga seolah-olah apa yang dibelanya adalah hal yang baik. Biasanya, para remaja membandingkan masturbasi dengan hubungan seks pranikah untuk menonjolkan betapa ringannya dosa masturbasi dan karenanya dianggap baik, padahal sebetulnya cuma lebih baik, dan itu tidak sama dengan baik. Dalam hal ini, ia membandingkan perilaku homoseksual dengan bunuh diri. Ia berharap bisa memeras Tuhan menggunakan logika keterpaksaan.
8.
Mencampuradukkan unsur-unsur homoseksualitas, sehingga pembaca yang tidak jeli gampang terjebak dalam logikanya. Dalam homoseksualitas, ada unsur arah ketertarikan, dorongan seksual, perilaku seksual, dan sikap terhadap seksualitasnya. Boleh jadi seseorang dilahirkan dengan bakat arah dorongan seksual ke sesama jenis, namun ia punya andil untuk menentukan takdirnya apakah akan mendapat murka atau ridha-Nya dengan cara berperilaku atau tidak berperilaku sebagaimana yang disukai-Nya. Namun si penulis menggunakan istilah gay, seolah-olah orang yang memiliki arah ketertarikan ke sesama jenis pasti akan mewujudkan dorongannya menjadi perilaku homoseksual, dan ridha (tidak menyesali) perilakunya. Ia mereduksi identitas seksual berdasarkan orientasi seksualnya saja.
9.
Bukti utama yang menunjukkan bahwa ia mengagungkan pikirannya dan meremehkan agama adalah pemenangan buah pikirannya atas dalil2 agama yang telah ditafsirkan oleh para cendekiawan dan ulama Islam, tanpa melalui proses pengkajian, misalnya peer review.
10.
Tidak menangkap inti dari ayat2 Quran yang berkisah mengenai umat Luth as. Inti kecaman Allah swt dan Luth as terhadap umat Luth as adalah agar umat Luth as itu mengubah perilaku homoseksualnya menjadi heteroseksual dan menata hatinya (bertakwa), bukan agar mereka menyukai lawan jenis Tujuannya adalah proses atau usaha, bukan untuk hasilnya karena Allah swt yang menentukan hasilnya. Bahkan seandainya nyata2 ayat Quran menceritakan umat Luth as akhirnya bertobat dan hidup secara heteroseksual, ia tetap gigih mengingkarinya.
11.
Menggunakan elemen-elemen nasrani untuk menata dalil2 islami, misalnya salib, sifat manusiawi tuhan (kecewa, terpaksa, merespon dengan buruk, meminta), dan peran malaikat sebagai korban pelecehan umat Luth as. Dalam hal salib, Islam sangat tegas melarang umatnnya dari menggunakan simbol-2 agama lain. Pensifatan tuhan seperti itu justru melemahkan ke-Maha-an Allah swt. Sedangkan peran malaikat, justru ayat2 al Quran menjelaskan bahwa azab itu dipersiapkan sebelum malaikat itu sampai ke kota terkutuk itu. Jadi, Allah swt tidak mengumpankan malaikat2 itu supaya punya alasan untuk membalikkan kota itu.
Konklusi:
Bisa ditarik gambaran kepribadian si penulis, ia adalah seorang homoseksual yang gagal mengalahkan nafsunya. Ia beranggapan bahwa hidupnya akan jauh lebih ringan apabila ia menjatuhkan diri dan menyerah kepada nafsunya, bukannya tunduk kepada nilai-nilai agama. Agar agama tidak lagi mengganggu aktivitasnya bersenang-senang dengan aktivitas homoseksualnya, maka ia berusaha untuk memelintir dalil2 tersebut agar sesuai dengan keinginannya dan tunduk kepada nafsunya.
Ia pernah mengalami penderitaan akibat tekanan dari orang-orang di sekitarnya (yang heteroseks) berupa kecaman, tudingan, dan desakan untuk menikah. Sayangnya, orang-orang heteroseks di sekitarnya tidak siap untuk membimbing dengan empatis, bahkan tidak pula mampu memberi contoh yang baik, misalnya masih suka berzina. Akibatnya, timbullah karakter ‘heterophobia.’
Tiadanya contoh yang baik dan bimbingan yang empatis inilah yang membuatnya semakin ragu dengan kebenaran hakiki yang diwakili oleh agama. Agama di matanya menurun nilai dari wahyu Tuhan menjadi produk heteroseksis. Meski demikian, karena ia ingin agar meraih banyak dukungan di tengah masyarakat yang masih memegang nilai agama, maka ia berusaha untuk memperhalus penyampaiannya dan secara politis menimbulkan anggapan bahwa yang salah adalah tafsirannya, bukan wahyu-Nya. Karena yang menafsirkan adalah orang-orang awam yang heteroseks, maka tafsirannya pun memihak heteroseks dan meminggirkan homoseks.
Karena itu pulalah, ia berusaha untuk meniadakan tekanan yang dialaminya untuk menikah, dengan cara mengatasnamakan fiqih, seolah-olah fiqih Islam melarang pernikahan yang dilakukan oleh seorang homoseks. Padahal, ini hanyalah hasil buah pikirnya, yang tidak otomatis diterima menjadi fiqih Islam. Justru dalam Al-Quran ditemukan dalil yang mewajibkan orang-orang yang memiliki SSA untuk menikah, yaitu Huud 78-79:
78.
Dan datanglah kepadanya kaumnya dengan bergegas-gegas. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji. Luth berkata: "Hai kaumku, inilah puteri-puteriku, mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini. Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal?"
79.
Mereka menjawab: "Sesungguhnya kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan terhadap puteri-puterimu; dan sesungguhnya kami tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki."
Lebih jauh lagi, ia berusaha mendapatkan pembenaran untuk mengharamkan pernikahan orang ber-SSA secara mutlak, dengan menetapkan standar ganda bahwa kalau ada orang dengan SSA berkadar kecil, maka haram untuk menikah. Lalu, bagaimanakah dengan orang homoseks yang memiliki kadar heteroseksual 1%, tidakkah ia juga jadi haram berhubungan homoseksual?
Pada dasarnya, ia bukanlah seseorang yang tertarik pada upaya mencari dan menemukan kebenaran yang sejati; Ia hanya ingin agar bisa bersenang-senang dengan perilaku homoseksualnya. Oleh karena itu, ia tidak segan-segan untuk berpindah-pindah pihak dan pendirian, asalkan tujuannya tercapai. Buktinya, ada ketidakkonsistenan dalam uraiannya. Mula2 ia mati2an berusaha menegaskan bahwa para ahli berpendapat kalau homoseksualitas bukanlah penyakit. Namun kemudian ia berusaha mendapatkan keringanan bagi homoseksual, dengan cara menganalogikannya dengan penyakit. Ketidakkonsistenan yang sama juga ditemukan pada pernyataannya bahwa bayi2 lahir tanpa dipaksa, namun selanjutnya ia bertanya, mengapa memaksa bayi-2 itu lahir.
Pandangannya tentang homoseksualitas sebagai bencana tidak sesuai dengan fakta yang banyak ditemui. Orang-orang yang memiliki SSA dalam dirinya tidak meratapi hilangnya kemungkinan untuk menikah dan memiliki anak. Mereka hanya bertanya-tanya, apakah jika aku menikah kelak, aku bisa berhubungan seksual dengan istriku? Kenapa aku dapat cobaan seperti ini? Boro2 mau berpikir soal punya anak, apalagi pahala pernikahan.
Dalam upayanya memelintir dalil2 agama, akhirnya ia menemui jalan buntu berupa ketidakkonsistenan. Namun demikian, jalan buntu ini semestinya bisa dihindari andaikata ia mau mengakui bahwa yang ia coba benturkan sebenarnya bukanlah 2 dalil agama, melainkan dalil agama dengan angan2nya sendiri!
Seandainya mampu, ia pasti akan mencoba memeras Tuhan. Buktinya, ia menggunakan logika “terpaksa” untuk membolehkan perilaku homoseksual. Ia mencoba berdalih di hadapan Tuhan, “Karena Engaku tidak mengijinkan aku bunuh diri, maka bolehkan aku berperilaku begini. Biarkan aku bersenang-senang. Jika tidak, ijinkan aku bunuh diri!”
Kesalahan2 yang dilakukan oleh penulis meyakinkan kita bahwa sebenarnya ia sama sekali bukan muslim! Ia adalah nonmuslim yang mengambil sumber2 dalil2 Islami, dan meramunya dalam logika yang dikendalikan oleh nafsunya. Ini dibuktikan dengan menata logika berdasar dalil2 islami dalam lambang agama nasrani (salib), kesalahan dalam menjelaskan seluk-beluk hudud bagi zinah, peran malaikat sebagai calon korban pelecehan oleh kaum Luth as, dan pensifatan Tuhan yang terlalu manusiawi (Tuhan terpaksa, tuhan kecewa, tuhan meminta, tuhan merespon dengan buruk). Pensifatan ini lebih lazim dalam Bibel dan ajaran nasrani, namun tanpa bukti yang nyata tentunya kita tidak boleh sembarangan menuduh.
Pendek kata:
*
Bisa jadi ia muslim, bisa juga nonmuslim. Apapun itu, ia termasuk yang berpandangan liberal. Namun kemungkinan lainnya, ia adalah orang yang tidak beragama; Agama digunakannya sebagai alat saja.
*
Tidak mengikuti perkembangan ilmu yang terbaru atau sengaja melewatkannya karena tidak ingin ‘sembuh’ dan dituntut untuk ‘sembuh.’ Ia bahkan tidak mengetahui bagaimana proses penentuan abnormalitas suatu fenomena oleh para ahli edis dan kejiwaan.
*
Sehubungan dengan homoseksualitasnya, ia mendapatkan pengalaman yang tidak menyenangkan dari orang-orang heteroseks di sekitarnya, sehingga tumbuh jadi seorang ‘heterophobia,’ serta overestimate terhadap kebaikan gay.
*
Banyak pengalaman di komunitas gay, sehingga menarik kesimpulan bahwa para gay pasti berselingkuh dari istrinya. Namun ia tidak memiliki pengalaman di komunitas non-gay yang masih berkonflik batin atau sudah menikah.
*
Oportunis, machiavellian. Ia tidak segan-segan untuk berkhianat, berpindah pihak, dan menjungkirbalikkan norma agar seleranya seolah-olah sah.
*
Tidak toleran terhadap orang lain yang senasib, tapi tidak seperjuangan. Yaitu orang-orang yang merasakan ketertarikan homoseksual tapi berusaha mengekangnya dan melampiaskan dorongan itu dalam ikatan pernikahan yang sah.
Sebagai penutup bisa dikatakan bahwa upaya untuk merombak tatanan yang anti-homoseksual bukanlah hal yang baru, Satu per satu batu penghalang sudah berhasil dijungkirkan. Kini, giliran agama yang dicoba dijungkirbalikkan. Hanya para gay yang cukup putus asa terhadap rahmat Allah sajalah saja yang bersegera mengikutinya, demi memuaskan nafsunya. Persis seperti kaum Luth as yang bersegera untuk menyambut kehadiran tamu-tamu Luth as. Dan mereka, sebagaimana yang telah digambarkan dalam Al Quran, benar2 terombang-ambing dalam kesesatan.
Ketika Aktivis Harus Jatuh Cinta
Ketika Aktivis Harus Jatuh Cinta
Ketika Harus Jatuh Cinta, Catatan Kecil untuk Para Aktivis Dakwah Sejati
(Part 1: Fenomena)
Dakwah bagaikan cahaya yang terpantul dari kedalaman senyawa dalam dada.
Cahayanya terpantul karena banyaknya kaca hati yang terserak, menyertai segenap duka yang terpupuk atas nama surga.
Semakin banyak kaca hati yang terserak mampu melunturkan waktu yang kian menipis di kisi-kisi senja. Berharap cepat kembali demi sebuah cinta.
Bagi seorang aktivis, dakwah merupakan sebuah jalan panjang menuju surga-Nya yang penuh onak dan duri. Tidak akan disebut berdakwah ketika seorang aktivis tidak menemui cobaan dalam berdakwah. Karena memang cobaan adalah bagian dari dakwah itu sendiri dan Allah akan selalu menguji kesungguhan hati orang-orang yang telah berani mengatakan bahwa mereka beriman.
Banyak aktivis yang telah berhasil melewati berbagai fase cobaan dalam rentang dakwahnya yang panjang. Aktivis ini telah membuktikan dirinya di hadapan kaum muslimin dan Rabb bahwa dengan keteguhan hati dan kesabarannya telah berhasil melakukan terobosan-terobosan dakwah yang penuh strategi dalam melawan kebatilan. Aktivis ini menjadi tumpuan dakwah di tempatnya berada karena dapat dipercaya dan amanah dalam melaksanakan berbagai agenda. Ia layak digelari mujahidullah peradaban karena mampu bertahan dengan cobaan dakwah yang menyangkut strategi dalam melawan kebatilan.
Tetapi seringkali aktivis itu tidak menyadari bahaya cobaan yang sedang menerpa hatinya. Hatinya yang rapuh sering tergelincir dengan cinta terhadap lawan jenis yang tumbuh dari kebersamaan mereka dalam dakwah yang panjang dan penuh cobaan. Ta'awun yang mereka lakukan seringkali menimbulkan benih-benih terpendam. Lalu diam-diam mereka pupuk di dalam hati hingga akhirnya bunga bermekaran di mana-mana. Sayangnya, bunga itu bukanlah bunga mawar yang indah... Bunga itu tumbuh bukan dari keimanan, melainkan dari pandangan mata dan nafsu yang pelan-pelan merusak hati lalu menggerogoti jiwa yang lemah. Jiwa itu kini menjadi rapuh, merusak seluruh niat yang tersampir di dada lalu akhirnya merobohkan sendi-sendi dakwah.
Walaupun begitu, sulit sekali untuk melepaskan ‘dia' yang telah bersemayam di dada, jauh melebihi Dia yang selama ini selalu bersama kita dengan penuh cinta. Bagaimana bisa melupakannya begitu saja? Ketika seorang aktivis dakwah telah terlalu lama menancapkan panah-panah pandangan mata ke arah ‘dia' yang tampak indah dengan segala gerik dakwahnya, sedangkan Dia-Rabb yang selalu ada untuk kita tak pernah sekalipun menampakkan wujud-Nya, tentu saja sosok'nya' jadi lebih bermakna. Kita takut tegas padanya karena sebelumnya telah terbayang wajahnya yang memelas. Kita jadi takut berbuat salah padanya karena telah terbayang wajahnya yang merah padam. Sekarang di dalam pikiran hanya ada wajahnya dimana-mana! Inilah bahaya kalau para aktivis mengurangi porsi ghadul bashar pada lawan jenis...
Lalu setelah berusaha ghadul bashar dan meluruskan niat lagi, datang cobaan dari lingkungan sesama aktivis dakwah. Yang anehnya lagi, lingkungan aktivis kadang malah mendukungnya. Mereka ucapkan kata-kata penggoda untuk membuatnya merasa bahwa sosok ‘itu' juga pantas disandingkan dengannya. Hati yang telah kokoh dibentengi keimanan kepada Allah itu akhirnya kandas juga dimakan api asmara yang datangnya dari sesama para aktivis dakwah. Terkadang lingkungan aktivis dakwah sekalipun juga dapat menjerumuskan ketika orang-orang yang ada di lingkungan itu sendiri kurang bisa menjaga hati dan pandangannya. Benar-benar cobaan yang dahsyat! Harapan dan kenyataan untuk menggapai surga-Nya telah terkotori oleh cobaan cinta dari lawan jenis yang tidak mampu dimaknai sesuai porsinya. Kini, yang tersisa hanyalah puing-puing dakwah yang terserak, roboh terkena badai cinta.
Ketika Harus Jatuh Cinta, Catatan Kecil untuk Para Aktivis Dakwah Sejati
(Part 2:Antara Kejujuran & Ketulusan)
Cinta... tiada satu pun di dunia ini yang menafikan karena cinta sendiri merupakan senyawa yang menjadi fitrah manusia sejak dia ada. Sekarang, permasalahan yang muncul adalah apakah kita bisa menumbuhkan benih cinta yang ada di dalam hati sesuai dengan porsinya? Apakah kita mampu mensinkronisasikan cinta dengan dakwah yang telah menjadi darah daging kita sendiri? Ataukah kita memisahkan cinta dengan dakwah lalu jatuh terluka karena telah mencabik-cabiknya dari nyawa? Kita letakkan harapan pada hamba, yang bahkan masih mengeja makna cinta. Sedangkan cinta hanya mau berharap pada Ilahi Rabbi-Tuhan yang telah menjadikannya ada.
Andaikan kita menjadi seorang aktivis yang telah jatuh cinta pada seorang pengemban dakwah lainnya, apakah kita adalah orang yang lantas tergelincir dari jalan dakwah ataukah kita mampu bertahan lalu menjaga cinta kita sebagai rahasia saja? Atau jangan-jangan kita biarkan cinta dan dakwah berjalan beriringan. Kita berjuang untuk Allah sekaligus untuk mendapatkan cinta dari aktivis dakwah lainnya juga. Padahal kita mengetahui hanya amal yang niat tulus karena Allah saja-lah yang diterima oleh Allah.
Wahai para pengemban risalah Allah, sadarlah... Hanya kejujuran dan ketulusan sajalah yang mampu mengalahkan semua niat yang telah ternoda di dalam dada. Ketika niat telah terkotori dan cinta telah berharap pada selain Allah, jujurlah pada Allah. Utarakan kepada Allah dengan sejujurnya keinginanmu yang sebenarnya. Jika ingin bersatu dengannya, mintalah... Pun ketika hati ini ingin diluruskan oleh Allah, dihilangkan bayang-bayang dirinya dari pikiran, maka mintalah... Jujurlah pada Allah... Kenapa kita harus menutupi hal yang tampak di hadapan-Nya?
Tulus dan jujurlah hanya kepada Allah-Rabb yang Maha Mengetahui segala isi hati. Karena hanya Allah saja yang mampu jujur dan tulus kepada kita. Bukan pendamping dakwah yang kita harapkan atau bahkan lingkungan yang mungkin juga sedang futur.
Lalu ketika Allah telah membalas kejujuran itu, maka saatnya untuk tulus kepada Allah. Tulus atas apapun keputusan Allah yang diberikannya kepada kita. Seandainya Allah mengabulkan doa-doa kita, anggaplah ini sebagai kado kecil dari-Nya karena kita telah jujur pada-Nya. Jika Allah mengizinkan kita bersatu dengan kekasih hati, maka tuluskan lagi niat kita hanya karena Allah. Maka insyaAllah perjalanan dakwah ini dengan kekasih hati akan lebih indah dan diridhoi oleh-Nya. Sedangkan bila Allah justru memisahkan kita dengan kekasih hati, maka kita juga harus berusaha tulus menerima segala keputusan Allah. Ini adalah keputusan terbaik dari Allah dan tiada yang bisa menandinginya. Yakinlah dengan keputusan Allah ini, maka insyaAllah penggantinya akan lebih baik dari apa yang selama ini kita bayangkan.
InsyaAllah dengan kejujuran dan ketulusan cinta ini maka aktivis dapat melangkah di jalan dakwah dengan keyakinan teguh dan kesabaran. Akivis menjadi insan yang istiqomah melangkah di jalan dakwah. Aktivis menjadi mujahid yang berhasil dari segi strategi dan segi kesucian cinta. Semoga kita semua menjadi aktivis yang mampu jujur dan tulus kepada Allah atas fitrah cinta yang telah menjadi senyawa dalam jiwa kita. Amin...
Ketika Harus Jatuh Cinta, Catatan Kecil untuk Para Aktivis Dakwah Sejati
(Part 1: Fenomena)
Dakwah bagaikan cahaya yang terpantul dari kedalaman senyawa dalam dada.
Cahayanya terpantul karena banyaknya kaca hati yang terserak, menyertai segenap duka yang terpupuk atas nama surga.
Semakin banyak kaca hati yang terserak mampu melunturkan waktu yang kian menipis di kisi-kisi senja. Berharap cepat kembali demi sebuah cinta.
Bagi seorang aktivis, dakwah merupakan sebuah jalan panjang menuju surga-Nya yang penuh onak dan duri. Tidak akan disebut berdakwah ketika seorang aktivis tidak menemui cobaan dalam berdakwah. Karena memang cobaan adalah bagian dari dakwah itu sendiri dan Allah akan selalu menguji kesungguhan hati orang-orang yang telah berani mengatakan bahwa mereka beriman.
Banyak aktivis yang telah berhasil melewati berbagai fase cobaan dalam rentang dakwahnya yang panjang. Aktivis ini telah membuktikan dirinya di hadapan kaum muslimin dan Rabb bahwa dengan keteguhan hati dan kesabarannya telah berhasil melakukan terobosan-terobosan dakwah yang penuh strategi dalam melawan kebatilan. Aktivis ini menjadi tumpuan dakwah di tempatnya berada karena dapat dipercaya dan amanah dalam melaksanakan berbagai agenda. Ia layak digelari mujahidullah peradaban karena mampu bertahan dengan cobaan dakwah yang menyangkut strategi dalam melawan kebatilan.
Tetapi seringkali aktivis itu tidak menyadari bahaya cobaan yang sedang menerpa hatinya. Hatinya yang rapuh sering tergelincir dengan cinta terhadap lawan jenis yang tumbuh dari kebersamaan mereka dalam dakwah yang panjang dan penuh cobaan. Ta'awun yang mereka lakukan seringkali menimbulkan benih-benih terpendam. Lalu diam-diam mereka pupuk di dalam hati hingga akhirnya bunga bermekaran di mana-mana. Sayangnya, bunga itu bukanlah bunga mawar yang indah... Bunga itu tumbuh bukan dari keimanan, melainkan dari pandangan mata dan nafsu yang pelan-pelan merusak hati lalu menggerogoti jiwa yang lemah. Jiwa itu kini menjadi rapuh, merusak seluruh niat yang tersampir di dada lalu akhirnya merobohkan sendi-sendi dakwah.
Walaupun begitu, sulit sekali untuk melepaskan ‘dia' yang telah bersemayam di dada, jauh melebihi Dia yang selama ini selalu bersama kita dengan penuh cinta. Bagaimana bisa melupakannya begitu saja? Ketika seorang aktivis dakwah telah terlalu lama menancapkan panah-panah pandangan mata ke arah ‘dia' yang tampak indah dengan segala gerik dakwahnya, sedangkan Dia-Rabb yang selalu ada untuk kita tak pernah sekalipun menampakkan wujud-Nya, tentu saja sosok'nya' jadi lebih bermakna. Kita takut tegas padanya karena sebelumnya telah terbayang wajahnya yang memelas. Kita jadi takut berbuat salah padanya karena telah terbayang wajahnya yang merah padam. Sekarang di dalam pikiran hanya ada wajahnya dimana-mana! Inilah bahaya kalau para aktivis mengurangi porsi ghadul bashar pada lawan jenis...
Lalu setelah berusaha ghadul bashar dan meluruskan niat lagi, datang cobaan dari lingkungan sesama aktivis dakwah. Yang anehnya lagi, lingkungan aktivis kadang malah mendukungnya. Mereka ucapkan kata-kata penggoda untuk membuatnya merasa bahwa sosok ‘itu' juga pantas disandingkan dengannya. Hati yang telah kokoh dibentengi keimanan kepada Allah itu akhirnya kandas juga dimakan api asmara yang datangnya dari sesama para aktivis dakwah. Terkadang lingkungan aktivis dakwah sekalipun juga dapat menjerumuskan ketika orang-orang yang ada di lingkungan itu sendiri kurang bisa menjaga hati dan pandangannya. Benar-benar cobaan yang dahsyat! Harapan dan kenyataan untuk menggapai surga-Nya telah terkotori oleh cobaan cinta dari lawan jenis yang tidak mampu dimaknai sesuai porsinya. Kini, yang tersisa hanyalah puing-puing dakwah yang terserak, roboh terkena badai cinta.
Ketika Harus Jatuh Cinta, Catatan Kecil untuk Para Aktivis Dakwah Sejati
(Part 2:Antara Kejujuran & Ketulusan)
Cinta... tiada satu pun di dunia ini yang menafikan karena cinta sendiri merupakan senyawa yang menjadi fitrah manusia sejak dia ada. Sekarang, permasalahan yang muncul adalah apakah kita bisa menumbuhkan benih cinta yang ada di dalam hati sesuai dengan porsinya? Apakah kita mampu mensinkronisasikan cinta dengan dakwah yang telah menjadi darah daging kita sendiri? Ataukah kita memisahkan cinta dengan dakwah lalu jatuh terluka karena telah mencabik-cabiknya dari nyawa? Kita letakkan harapan pada hamba, yang bahkan masih mengeja makna cinta. Sedangkan cinta hanya mau berharap pada Ilahi Rabbi-Tuhan yang telah menjadikannya ada.
Andaikan kita menjadi seorang aktivis yang telah jatuh cinta pada seorang pengemban dakwah lainnya, apakah kita adalah orang yang lantas tergelincir dari jalan dakwah ataukah kita mampu bertahan lalu menjaga cinta kita sebagai rahasia saja? Atau jangan-jangan kita biarkan cinta dan dakwah berjalan beriringan. Kita berjuang untuk Allah sekaligus untuk mendapatkan cinta dari aktivis dakwah lainnya juga. Padahal kita mengetahui hanya amal yang niat tulus karena Allah saja-lah yang diterima oleh Allah.
Wahai para pengemban risalah Allah, sadarlah... Hanya kejujuran dan ketulusan sajalah yang mampu mengalahkan semua niat yang telah ternoda di dalam dada. Ketika niat telah terkotori dan cinta telah berharap pada selain Allah, jujurlah pada Allah. Utarakan kepada Allah dengan sejujurnya keinginanmu yang sebenarnya. Jika ingin bersatu dengannya, mintalah... Pun ketika hati ini ingin diluruskan oleh Allah, dihilangkan bayang-bayang dirinya dari pikiran, maka mintalah... Jujurlah pada Allah... Kenapa kita harus menutupi hal yang tampak di hadapan-Nya?
Tulus dan jujurlah hanya kepada Allah-Rabb yang Maha Mengetahui segala isi hati. Karena hanya Allah saja yang mampu jujur dan tulus kepada kita. Bukan pendamping dakwah yang kita harapkan atau bahkan lingkungan yang mungkin juga sedang futur.
Lalu ketika Allah telah membalas kejujuran itu, maka saatnya untuk tulus kepada Allah. Tulus atas apapun keputusan Allah yang diberikannya kepada kita. Seandainya Allah mengabulkan doa-doa kita, anggaplah ini sebagai kado kecil dari-Nya karena kita telah jujur pada-Nya. Jika Allah mengizinkan kita bersatu dengan kekasih hati, maka tuluskan lagi niat kita hanya karena Allah. Maka insyaAllah perjalanan dakwah ini dengan kekasih hati akan lebih indah dan diridhoi oleh-Nya. Sedangkan bila Allah justru memisahkan kita dengan kekasih hati, maka kita juga harus berusaha tulus menerima segala keputusan Allah. Ini adalah keputusan terbaik dari Allah dan tiada yang bisa menandinginya. Yakinlah dengan keputusan Allah ini, maka insyaAllah penggantinya akan lebih baik dari apa yang selama ini kita bayangkan.
InsyaAllah dengan kejujuran dan ketulusan cinta ini maka aktivis dapat melangkah di jalan dakwah dengan keyakinan teguh dan kesabaran. Akivis menjadi insan yang istiqomah melangkah di jalan dakwah. Aktivis menjadi mujahid yang berhasil dari segi strategi dan segi kesucian cinta. Semoga kita semua menjadi aktivis yang mampu jujur dan tulus kepada Allah atas fitrah cinta yang telah menjadi senyawa dalam jiwa kita. Amin...
Subscribe to:
Posts (Atom)
